Rabu, 10 Desember 2014

Kisah Diklat SCT : Sepotong Kata Secangkir Kisah Manisku di Sana

SCT (SIAP CEPAT TANGKAP) 
Sepotong kata Secangkir kisah manisku di sana 
Oleh. Nur Asmi 

Jarum jam berjalan begitu cepat, jantungku pun ikut pergi mengejarnya tak ketinggalan kendaraan yang berlalu lalang seolah mencibirku karna telah menjadi pemenang dalam daftar orang-orang yang terlambat sore itu. Grasa grusuku turun dari mobil mini berbayar ini, ya inilah kendaraan mewahnya yang setia mengantar kemanapun aku mau asal setiap turunnya uangku berpindah posisi dari kantong menuju pak supir. Tangga ku naiki kemudian mengecek ke setiap kelas yang penuh pernak pernik, “Dimana sih SCTnya, gak ada orang. “ kesalku menjalar menuju ubun-ubun, pandanganku pun tertancap menuju masjid, ya aku kira mungkin saja diklatnya di sana. Kuayunkan langkahku dengan pasti, mantap dan penuh percaya diri. Masjid kuhampiri dan karpet berbinar-binar menyambutku. Kulihat sekeliling, “Yah,..kosong” tak ada manusia disana, ku percepat lagi langkah kakiku menuju ma’had tadi. Kusebrangi jalan setapak hingga tiba dipenghujung ku melihat pasukan ikhwan berbaris rapi mengarahku dan ternyata disusul oleh para akhwat dibelakangnya,.”Masya Allah,...Alhamdulillah,ini dia yang dicari”, hingga mau copot lututku mencari mereka ternyata udah sampai didepan mata. Suara supersonic ku pun meluncur dengan kecepatan tertinggi bak orang yang meracau bertanya kepada teman yang lain kemana saja mereka sedari tadi dicari gak ketemu-ketemu. Senyam senyum mereka melihat tingkahku, dan tersadar aku kalau tenyata mereka berkumpul dilapangan bawah dekat kamar mandi . Gubrak ! Gondokan aku ! -_-“. Hari pertama,..setelah sebelumnya dinanti-nantikan dengan berbagai angan-angan kegiatan, hari itu pun tiba. Materi pertama disampaikan oleh Ust.Edi Safari memberikan motivasi-motivasi penggerak dan pembakar semangat jiwa ini, lalu hatiku berteriak,.. 

“Allahu Akbar !! Allahu Akbar !! Aku siaAap,..aku siaAap,.. (~^o^)~“ seolah ada yang menggelitik-litik rasaku, senyam senyumpun terus berkobar di wajahku dan semangat mengecutkan lelahku. Materi kedua dilajutkan oleh Bapak kami, pemimpin kami dan sahabat kami ,..ya,..itu dia Sosok pemuda ketua dan panitia acara kami mereka menyebutnya Abu Huda, materi penghantar kegiatan-kegiatan SCT kedepannya dipaparkan dengan guyonan khas beliau. Tak terasa cahaya hari itu sudah mulai redup bergantikan warna jingga hingga bersambutlah malam pertama perjuangan diklat kami. Jingkrak para jangkrik-jangkrik itu beriringan dengan suara melodi sang katak, seusai kami sholat magrib kami bersama-sama keluar masjid untuk menuju perpustakaan ma’had, mata kami seolah berceceran takjub melihat sandal-sandal yang telah tersusun rapi diteras masjid. Sadar bahwa sudah ada yang memupukkan ilmu ketauladanan pada kami yaitu pentingnya kerapian meski hal itu terlihat sangat kecil..... Bersambung !
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar