Huda Motivator

Sebuah Harapan | Sebuah Impian | Untuk Tegaknya Izzah Islam

Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juni 2011

Akhlak Buruk atau Akhlak Tercela


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
         Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran.Ini tidak berarti bahwa pada saat melakukan sesuatu perbuatan,yang bersangkutan dalam keadaan tidak sadar,hilang ngatan,tidur atau gila.Pada saat yang bersangkutan melakukan suatu perbuatan ia tetap sehat akal pikirannya dan sadar.Oleh karena itu perbuatan yang dilakukan oleh sseorang dalam keadaan tidur,hilang ingatan,mabuk atau perbuatan reflek seperti berkedip,tertawa dan sebagainya bukan lah perbuatan akhlak.Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang yang sehat akal fikirannya.
  Oleh karena itu dalam makalah ini akan membahas akhlak yang berkaitan dengan akhlak buruk.

B.      Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud akhlak buruk ?
2.      Apa yang dimaksud Akhlak tercela dan macam-macam akhlak tercela ?
3.      Apa yang dimaksud Praktik-praktik akhlak ?
4.      Mengapa akhlak buruk sebagai pangkal dari kesengsaraan ?

C.      Tujuan

1)      Untuk memenuhi tugas dari Bapak Wira Hadikusuma selaku dosen Akhlak
2)      Untuk mengetahui akhlak buruk
3)      Untuk mengetahui akhlak tercela
4)      Untuk mengetahui praktik-praktik akhlak




BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Akhlak Buruk
Pengertian ahklaq buruk dapat dibagi menjadi 3(tiga) yaitu;
1.  Perbuatan buruk adalah perbuatan yang menurut hati nurani atau kekuatan batin dipandang buruk.
2.  Perbuatan buruk ialah pekerjaan atau perbuatan yang tidak berguna.
3.  Perbuatan buruk adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.
          Quraish Shihab mengatakan bahwa kebajikan lebih dahulu menghiasi diri manusia daripada kejahatan dan bahwa pada dasarnya manusia cendrung kepada kebajikan.[1]  
          Dengan demikian akhlak buruk adalak suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan hati nurani dan norma-norma serta aturan yang telah Allah tetapkan. Yakni bertentangan dengan Al-Qur’an wa Sunnah.
B.      Akhlak-Akhlak Tercela (AL-Akhlak AL-Madzmumah)
          Hidup manusia terkadang mengarah kepada kesempurnaan jiwa dan kesuciannya,tapi kadang pula mengarah kepada keburukan.hal tersebut bergantung kepada beberapa hal yang mempengaruhinya.Menurut Ahmad Amin, keburukan akhlak(dosa dan kejahatan)disebabkan karena’’kesempitan pandangan dan pengalamannya,serta besarnya ego’’.[2] Menurut iman Ghazali,akhlak yang ter cela ini dikenal dengan sifat-sifat muhlikat,yakni segala tingkah laku manusia yang dapat membawanya kepada kebinasaan dan kehancuran diri,yang tentu saja bertentangan dengan fitrahnya untuk selalu mengarah kepada kebaikan.[3] Al-Ghazali menerangkan empat(4)hal yang mendorong manusia melakukan 
Perbuatan yang tercela(maksiat),di antaranya;
1.     Dunia dan isinya.
2.     Manusia.
3.     Setan(iblis). 
4.     Nafsu. Nafsu ada yang baik dan buruk,akan tetapi nafsu cendrung mengarah kepada keburukan.[4] Perbuatan yang tercela dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu;

1.      Maksiat Lahir
   Maksiat berasal dari bahasa arab,ma’siyah, artinya’’ pelanggaran oleh orang yang berakal balig(mukallaf),karena melakukan perbuatan yang dilarang,dan meninggalkan pekerjaan yang diwajibkan oleh syariat islam.[5]  
           Maksiat lahir dibagi menjadi 4 bagian yaitu;
·      Maksiat lisan.
·      Maksiat telinga.
·      Maksiat mata.
·      Maksiat tangan.
        Maksiat lahir,karena dilakukan dengan menggunakan alat-alat lahiriah,akan mengakibatkan kekacauan dalam masyarakat,dan tentu saja amat berbahaya bagi keamanan dan ketentraman masyarakat.
2.  Maksiat Batin.
Maksiat batin lebih berbahaya dibandingakan dengan maksiat lahir,dan lebih sukar dihilangkan.selama maksiat batin belum dilenyapkan,maksiat lahir tidak bisa dihindarkan dari manusia. Maksiat batin berasal dari dalamhati manusia, atau digerakkan oleh tabiat hati.Sedangkan hati memiliki sifat yang tidak tetap, terbolak-balik,berubah-ubah,sesuai dengan keadaan atau sesuatu yang mempengaruhinya.Hati terkadang baik,simpati,dan kasih saying,tetapi disaat lainnya hati terkadang jahat,pendendam,syirik,dan sebagainya.
           Beberapa contoh ppenyakit batin(akhlak tercela) adalah;
o   Marah (ghadap).
o   Dongkol (hiqd).
o   Dengki (hasad).
o   Sombong (takabbur).
  Selain beberapa sifat tersebut,masi banyak sifat tercela lainnya.Menurut A.Mustofa,terdapat 33 sifat mazmumah.[6] Dalam menetapkan sesuatu, diperlukan sebuah ukuran agar terhindar dari perselisihan dan pertentangan.Persoalan akhlak merupakan masalah pokok yang slalu relevan dalam setiap perkembangan zaman.Oleh karenya,untuk menciptakan keseimbangan dalam penentuan baik dan buruk di perlukan ukuran.Secara teoritis.

C. Praktik-Praktikk Akhlak.
1.Adat (Al-‘urf).

Setiap suku bangsa mempunyai adat istiadat tertentu yang diwariskan oleh nenek moyang mereka.Aturan menurut adat istiadat ini suatu perbuatan baik bagi mereka yang menjaga dan melaksanakannya dan dipandang buruk bagi mereka yang mengindahkan dan melanggarnya.Apabila adat kebiasaan telah lahir pada seseorang atau masayarakat,ia mempunyai sifat-sifat antara lain;
a.      Mudah mengerjakan pekerjaan yang sudah diadatkan itu.
b.      Kurang/tidak memakan waktu dan perhatian dari waktu sebelum diadatkannya.
Faktor yang telah menentukan lahirnya adat istiadat itu yaitu;
1.      Karena ada kecendrungan hati kepada perbuatan itu atu senang melakukannya.
2.      Diikutinya kecendrungan hati tersebut denga praktik yang diulang-ulang,sehingga menjadi biasa.[7]Adat yang berlaku disuatu daerah,suku atau Negara akan berbeda dengan daerah,suku atau Negara lainnya.Karena seringkali peraturan adat menyalahi rasio(Akal Sehat)[8] 
2.Undang-Undang Positif (al-Qawanin al-Wadh’iyah)
Dimanapun manusia berada,akan selalu ada undan-undang yang mesti dijunjungnya dengan penuh kepatuhan.yaitu undang-undang sebagai berikut;
1)      Undang-undang Alam.
2)      Udang-undang Negara.
3)      Undang-undang Akhlak.
Undang-undang Akhlak sebagai undang-undang positif, dicirikan oleh:
·         Undang-undang akhlak berkekuatan tetap.
·         Undang-undang akhlak bersifat baik dan tidak merugikan.
·         Undang-undang akhlak melihat perbuatan dalam manusia,maupun pendorongnya(niat).
·         Undang-undang akhlak dilaksanakan oleh kekuatan batin,yaitu hati nurani.
·         Undang-undang akhlak member beban dengan keperluan dan kesempurnaan,agar menjadi orang baik.
        Penilaian buruknya perbuatan dapat juga ditentukan oleh pendapat pribadi,walaupun pendapat pribadi tersebut bersifat subjektif.Subjektifitas tersebut ditentukan oleh tingkat pendidikan dan lingkungan seseorang. Pendapat pribadi didasarkan oleh hati nurani seseorang yang cendrung kepada kebaikan, serta pengalaman yang dimilikinya,tatanan moral yang berlaku dilingkungannya.
3.Ajaran-Ajaran Agama.
        Agama memiliki hubungan erat dengan moral.setiap agama mengandung suatu ajaran moral yang menjadi pegangan bagi perilaku para penganutnnya.Muhammad Al-Ghazali mengatakan,’’Iman yang kuat akan mewujudkan akhlak yang baik dan mulia,sedangkan Iman yang lemah mewujudkan iman yang jahat dan buruk’’.[9] Aturan-aturan tersebutsesuaidengan akal manusia,dan tidak berlawanan dengannya,karena akal turut menentukan baik buruknya suatu perbuatan.Menurut Imam Ghazali’’,.perbuatan disebut buruk apabila bertentagan dengan akal dan syara’’.  
C.      Akhlak Buruk Sebagai Pangkal Kesengsaraan.
   Akhlak buruk menjadi musuh islam yang utama,karena itu ia sangat memerangi akhlak yang buruk ini.Rasullahpun diutus untuk menyempurnakan akhlak.
        Sebagai mana sabda Nabi yang artinya;’’Bahwasanya aku diutus Allah untuk menyempurnakan keluhuran akhlak(budi pekerti)’’.(H.R.Ahmad).
        Karena misi islam yang pertama-tamaadalah untuk membimbing manusia berakhlak mulia,maka setiap pelanggaran akhlak akan mendapat sanksi atau siksa dari Tuhan.Dengan kata lain,setiap perbuatan buruk akan berakibat kesengsaraan bagi si pembuat sendiri dan bagi masyarakatnya.Banyak cerita yang diterangkan Allah dalam kitab suci Al-Qur’an tentang binasanya atau celakanya orang dahulu,yaitu;
         akibat dari kemaksiatan dan keburukan Akhlak mereka.Jadi akhlak buruk bukan hanya berbahaya bagi dirinya sendiri tetapi akan merusak kedamaian dan keharmonisan masyarakat. Dalam  masyarakat yang sudah merajalela dusta dan kecurangan akan berakibat ketidak pastian dalam kata dan tindakan,yang pada gilirannya akan menimbulakan kekacauan dalam masayarakat.Adanya kebebasan yang diberikan tuhan kepada manusia,menjadikanya harus mempertanggung jawabkan segala aktivitasnya,karena dengan itu ia dapat menentukan arah pilihannya.Dalam menentukan pilihan itu,manusia dibimbing oleh tiga petunjuk    (hidayah) yaitu;
1.      Fitrah yakni potensi rohani yang dibawa manusia sejak lahir yang menurut tabiatnyacendrung kepada kebaikan dan mendorong manusia untuk berbuat baik.
2.      Akal yaitu suatu kekuatan yang dimiliki manusia untuk dapat mempertimbangkan baik buruknya sesuatu.
3.      Agama  yakni ajaran-ajaran tuhan yang tertuang dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

            Perjalanan hidup yang disertai hawa nafsu dan memisakan diri dari keramaian tetapi dengan penuh ragu yang tidak kunjug reda tidak akan dapat membuat keridhaan Allah.sebab hawa nafsu memperturutkan keinginanya kepada sesuatu maka ia tidak dapat menghindarkan diri dari tabiatnya yang cendrung kepada keburukan yang dapat menyesatkan orang dari jalan yang benar.
D.     Manfaat Meninggalkan Akhlak Buruk

1)      Untuk menciptakan atau mencapai kebahagiaan individu dan sosial,
2)      Terciptalah tata tertib dalam pergaulan dalam masyarakat, di mana tidak ada sifat benci-membenci.
3)      Menjadikan dirinya dapat melaksanakan kewajiban dan pekerjaan dengan baik dan sempurna
4)      Terciptanya kehidupan yang harmonis antar masyarakat
5)      Menumbuhkan rasa taat kepada Allah dan menumbuhkan rasa saling mengingatkan kepada kebaikan .
















BAB. III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
           Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa akhlak buruk adalah suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan hati nurani dan norma-norma serta aturan yang telah Allah tetapkan. Yakni bertentangan dengan Al-Qur’an wa Sunnah. Adapun macam-macam akhlak tercela seperti marah, hasud, sombong, ria’ , dengki dan lain-lain. Perbuatan buruk atau akhlak buruk merupakan perbuatan yang akan membawa kepada kesengsaraan baik di dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, aklhak buruk wajib dijauhi dan dihilangkan dalam diri kita. Sehingga akan terciptanya kehidupan yang harmonis antar masyarakat dan hubungan baik kepada Allah azza Wajalla.

B.   Saran

Adapun saran dari penulis untuk para pembaca adalah :
Kami berharap makalah ini dapat dijadikan sebagai pengetahuan dan wawasan tambahan bagi para pembaca tentang akhlak Buruk. Oleh sebab itu, dengan kita mengetahui bahaya akhlak buruk . mudah-mudahan kita semua  menghindari dan menghilangkan  dari dalam diri kita. Serta mari kita tingkatkan keimanan dan ketaqwaan Kepada Allah SWT. Sehingga akan menjadi manusia yang mulya disisi-Nya. amin




















DAFTAR PUSTAKA

Nata Abuddin.2003.Akhlak Tasawuf.Jakarta:Raja Grafindo Persada.
Zahrudin.,Sinaga Hasanudin.2004.Pengantar Study Akhlak.Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Asmaran.2002.Pengantar Studi Akhlak.Jakarta:Raja Grafindo Persada
Mustofa .1997.Akhlak-Tasawuf.Bandung;Pustaka Setia




[1] M.Quraish Shihab,Wawasan Al-Qur’an,(Bandung;Mizan,1996),cet.1,hlm 254.
[2] Ahmad Amin,op.cit.,hlm.262
[3] Al-Ghazali menyamakan sifat-sifat terpuji dengan munjiyat,sedangkan sifat tercela dengan Muhlikat.selanjutnya lihat A.Mustofa,Akhlak Tasawuf,(Bandung;Pustaka Setia,1999),Cet,Ke-2,hlm 197.
[4] Asmaran As, op. cit.,hlm.131-140
[5] Lihat;Asmaran As.,op,cit.hlm 184
[6] A.Mustofa, op. cit.,hlm. 199-200
[7] Rachmat Djatnika,Sistem Etika Islami(Akhlak mulia),Jakarta;Pustaka Panjimas,1996,Cet.ke-2,hlm.49.
[8] Asmaran AS.,op. cit. hlm. 27
[9] Ibid.,hlm. 109.
BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Dalam proses pertumbuhannya, filsafat sebagai hasil pemikiran para ahli filsafat atau para filosof sepanjang kurun waktu ini. Dengan objek permasalahan hidup di dunia telah melahirkan berbagai pandangan yang berbeda tetapi saling menguatkan dan berlawanan, waupun objeknya sama. Hal ini disebabkan karena pendekatan yang digunakan oleh para filosof berbeda satu sama lainnya. Karena adanya perbedaan inilah, maka kesimpulan yang dihasilkan berbeda. Akan tetapi pemikiran filsafat tidak pernah berhenti, maka keputusan dan kesimpulannya tidak pernah final. Untuk mengenal perkembangan pemikiran dunia filsafat pendidikan, dibawah ini akan diuraikan aliran-aliran filsafat pendidikan.

1.2 Rumusan Masalah
  1. Apa yang dimaksud dengan filsafat Pendidikan ?
  2. Apa yang dimaksud dengan Progressivisme ?
  3. Apa yang dimaksud dengan Esensialisme ?
  4. Apa yang dimaksud dengan Rekontruksionalisme ?
  5. Apa yang dimaksud dengan Eksistensionalisme ?

1.3 Tujuan Makalah
Ø  Untuk memenuhi tugas dari Dosen Filsafat Umum Bapak Suradi
Ø  Untuk mengetahui pengetian filsafat pendidikan islam
Ø  Untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang Filsafat Umum
Ø  Untuk dijadikan sumber bacaan dan sebagai refrensi tambahan.







BAB II
PEMBAHASAN

3.1 Pengertian Filsafat Pendidikan
a. Pengertian Filsafat
Filsafat berasal  dari bahasa Yunani philosophia. Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, filsafat berasal dari bahasa Yunani yang tersusun dua kata philein artinya cinta dan sophos artinya hikmat (wisdom). Orang Arab memindahkan kata Yunani philosophia kedalam bahasa Arab yakni falsafa dengan pola fa’lala, fa’lalah dan fi’lah. Dengan demikian kata benda dan kata kerja falsafa menjadi falsafah atau filsaf. Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, kata filsafat bukan berasal dari bahasa Arab falsafah dan bahasa barat philosophy.
Dengan demikian, intisari filsafat adalah “berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma serta agama) dan dengan sedalam-dalamny sehingga sampai kedasar-dasar persoalannya.1 Dalam buku Ali Saifullah tentang definisi filsafat yang dirumuskan oleh ES. Ames sebagai “ comprehensive view of life and its meaning, upon the basis of the results of the various sciences. Dari definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian philosophia is the mother of the mother of the sciences and synoptic thinking atau metode berfikir sinopsis.2

b. Pendidikan
Dalam konteks islam pada umumnya kata pendidikan yakni mencakup kepada al-tarbiyah, al-ta’did dan al-ta’lim dan yang digunakan adalah al-tarbiyah. Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya serta keterampilannya kepda generasi muda untuk memurnikan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama dengan sebaik-baiknya. Dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Dapat didiskripsikan dan kemudian dipahami masalah-masalah hidup dan perkembangan dalam masyarakat dan dalam proses pendidikan serta aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan pendidikan.3.
 

1.Drs. Prasetya.199 7.filsafat Pendidikan.Bandung:Pustaka Setia
2.Drs. Ali Saifullah.1970.Dasar-Dasar Filosof pendidikan.Malang: Lembaga Penerbit IKIP
3.James grible, introduction to philosophy of education, Allyn and Balon .
Menurut Ahmad Tafsir, pendidikan islam adalah sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai agama islam. Pada dasarnya fungsi ilmu itu adalah menuntut adanya iman dan islam serta amal sholeh. Maka ilmu tidak akan berfungsi sebagai alat untuk melasanakan amanahnya yakni sebagai khalifah fil ‘ardh.4

Jadi filsafat pendidikan adalah sejumlah prinsip, kepercayaan, konsep, asumsi dan premis yang ada hubungan erat dengan praktek pendidikan yang ditentukan dalam bentuk yang saling melengkapi, bertalian dan selaras. Yang berfungsi sebagai teladan dan pembimbing bagi usaha pendidikan dan proses pendidikan dengan seluruh aspek-aspeknya dan bagi politik dalam suatu negara.

3.2 Aliran-Aliran dalam Filsafat Pendidikan
Untuk mengenal perkembangan perkembangan dunia filsafat pendidikan. Dibawah ini akan diuraikan garis-garis besar aliran-aliran filsafat pendidikan.

3.2.1 Aliran Progressivisme
Aliran Progressivisme adalah suatu aliran filsafat pendidikan yang sangat berpengaruh dalam abad ke 20 ini. Pengaruh itu terasa diseluruh dunia terutama di Amerika Serikat. Usaha pembaharuan didalam lapangan pendidikan pada umumnya terdorong oleh aliran progressivisme ini. Biasanya Aliran Progressivisme ini dihubungkan dengan pandangan hidup liberal. “ the liberal road to cultur”, yang dimaksud dengan ini adalah pandangan hidup yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
Ø  Fleksibel ( tidak kaku, tidak menolak perubahan, tidak terikat oleh suatu doktrin tertentu)
Ø  Curious ( ingin mengetahui, ingin menyelidiki )
Ø  Toleran dan open-minded ( mempunyai hati terbuka )

1.      Sifat-Sifat Aliran Progressivisme
Sifat umum aliran progressivisme ada dua yaitu :
Ø  Sifat-sifat Negatif



 

4. Dr.H. Samsul Nizar, M.A.Filsafat Pendidikan Islam.2002.Jakarta:Ciputat Pers

Sifat ini dikatakan negatif karena progressivisme menolak otoriterisme dan absolutisme dalam segala bentuk. Seperti terdapat pada agama, etika, politik, dan epistemologi.

Ø  Sifat-sifat Positif
Dalam arti bahwa sifat progressivisme menaruh kepercayaan kekuatan secara alamiah dari manusia, kekuatan-kekuatan yang diwarisi oleh manusia dari alam kanduangan sampai ia lahir .-man’s natural power. Yang dimaksudkan disini adalah kekuatan manusia yang terus-menerus untuk melawan dan mengatasi kekuatan-kekuatan takhayul dan kegawatan – kegawatan yang timbul dari lingkungan hidup. Istilah yang dipakai dalam filsafat untuk menggambarkan pandangan hidup adalah pragmatisme.
Pragmatisme berpendapat bahwa pendidikan adalah alat kebudayaan yang paling baik. Bahwa dengan pendidikan sebagai alat, manusia dapat menjadi “ the masters, not the slaves of social as well as other kinds of natural change”

3.2.2 Aliran Esensialisme
Esensalisme muncul pada zaman Renaissans, dengan ciri-ciri utamanya yang berbeda dengan progressivisme. Perbedaan ini terletak pada pendidikan yang fleksibelitas, dimana serba terbuka untuk perubahan. Karena itu esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama. Sehingga memberikan kestabilan dan arah yang jelas.
Esensialisme didasari atas pandangan humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah pada keduniawian, serba ilmiah dan materelistik dan jga diwarnai oleh aliran idealisme dan realisme. Imam Barnadib (1981)5 ), menyebutkan beberapa tokoh utama yang berpearan dalam penyebaran aliran esensialisme, yaitu :
  • Desiderius Erasmus ( abad 15 – permulaan abad 16)
  • Johann Amos Comenius
  • John Locke
  • Johann Henrich Pestalozzi (1746-1827)
  • William T. Harris



 

5. Imam Barnadib, filsafat pendidikan, yayasan penerbit Fip.IKIP, Yogyakarta
Tujuan umum aliran ini adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan di akhirat. Adapun isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu menggerakkan kehendak manusia. Kurikulum sekolah merupakan miniatur dunia yang biasa dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan kegunaan. Sehingga peranan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan bisa berfungsi sesuai dengan prinsip-prinsip dan kenyataan sosial yang ada di masyarakat.

3.2.3 Aliran Perennialisme
Perennialisme diambil dari ambil dari kata perennial, yang dalam Oxford Advanced learner’s dictionary of Current English diartikan sebagai “ continuing throughout the whole year” atau “Lasting for a very long time”—abadi atau kekal. Dari makna yang terkandung dalam kata itu, maka aliran perennialisme mengandung kepercayaan filsafat yang berpegang pada sifat-sifat dan norma-norma yang kekal dan abadi.
Asas yang dianut aliran perennialisme bersumber pada filsafat kebudayaan yang berkiblat dua, yaitu:
Ø  Perennialisme yang Theologis, yang bernaung dibawah supremasi gereja Katolik, dengan orientasi pada ajaran dan tafsir thomas Aquinas.
Ø  Perennialisme Sekuler, yang berpegang pada ide dan cita filosofis plato dan Aristoteles.
Didalam pendidikan aliran ini, sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokohnya : plato, Aristoteles dan Thomas Aquinas. Menurut Plato, manusia secara kodrati memiliki 3 potensi yaitu: nafsu, kemauaan, dan fikiran. Pendidikan hendaknya berorientasi pada masyarakat. Tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar dan mempraktekan asas-asas normatif itu dalam semua aspek kehidupan. Bagi Aristoteles tujuan pendidikan adalah “ kebahagiaan ”, untuk mencapai itu, maka aspek jasmani, emosi, dan intelekharus dikembangkan secara seimbang. Sedangkan menurut Thomas Aquinas adalah “ usaha mewujudkan yang ada dalam individu agar menjadi aktualitas “ aktif dan nyata. Prinsip pendidikan perennialisme telah mempengaruhi sistem pendidikan modern, seperti pembagian kurikulum untuk Sekolah Dasar, menengah, perguruan tinggi dan pendidikan orang dewasa.


3.2.4 Aliran Rekontruksionalisme
Aliran rekontruksionalisme adalah sepaham dengan aliran perennialisme dalam hendak mengatasi krisis kehidupan modern. Hanya saja jalan yang ditempuhnya berbeda tetapi sesui dengan istilah yang dikandungnya yakni “ berusaha membina suatu konsensus yang paling luas dan yang paling mungkin tentang tujuan utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia “ restore to the original form.
Untuk mencapai tujuan itu, maka melalui suatu lembaga dan proses pendidikan , rekontruksionalisme ingin “ merombak tata susunan lama, dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang sama sekali baru ”6. Dan juga diperlukan adanya kerjasama semua bangsa.. Karena para penganut aliran ini, berkeyakinan bahwa hasrat atau tujuan dunia itu sama. Hal inilah yang mendasari dan menjiwai pandangan pemuka-pemuka dunia, seperti yang terumuskan dalam Nourt-South : A Program For Surviral .

3.2.5 Aliran Eksistensialisme
Eksistensialisme biasa dialamatkan sebagai salah satu reaksi dari terhadap peradaban manusia yang hampir punah akibat perang dunia kedua. Dengan demikian, hakekat Eksistensialisme adalah merupakan aliran filsafat yang bertujuan mengembalikan keberadaan umat manusia sesuai dengan keadaan hidup asasi yang dimiliki dan dihadapinya.  Sebagai aliran filsafat, tetapi aliran ini berbeda dengan filsafat eksistensi.
Pengertian eksistensialisme  adalah suatu penolakan terhadap suatu pemikiran abstrak, tidak logis atau tidak ilmiah eksistensilisme menolak segala bentuk kemutlakan rasional. Dengan demikian aliran ini hendak memadukan hidup yang dimiliki dengan pengalaman, alami dan tidak mau terikat pada hal-hal yang sifatnya abstrat serta spekulatif. Oleh sebab itu, penganut aliran ini nampak aneh dan lepas terhadap norma-norma umum serta freedom.
Pandangan tentang pendidikan, disimpulkan oleh Van Cleve Morris dalam Existentialism and Education, bahwa eksistensialisme tidak menghendaki adanya aturan-aturan pendidikan dalam segala bentuk.




 

5. Muhammad Noor syam, op. cit.,hal 183

BAB. III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Filsafat pendidikan adalah sejumlah prinsip, kepercayaan, konsep, asumsi dan premis yang ada hubungan erat dengan praktek pendidikan yang ditentukan dalam bentuk yang saling melengkapi, bertalian dan selaras. Adapun aliran-aliran dalam filsafat pendidikan, yaitu :
1.      Progressivisme
2.      Esensialisme
3.      Perennialisme
4.      Rekontruksionalisme
5.      Eksistensionalisme

3.2 Saran
Adapun saran dari penulis adalah :
Makalah ini kami buat dengan sebaik-baiknya. Mudah-mudahan makalah ini dapat dijadikan sumber bacaan, referensi tambahan dan menambah pengetahuan para pembaca. Kami sadar didalam makalah ini masih banyak kesalahan dan kekeliruan. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan sarannya untuk kesempurnaan makalah ini. Atas partisipasi para pembaca kami ucapkan terimakasih.











DAFTAR PUSTAKA


Barnadib, Imam .Filsafat Pendidikan.Yogyakarta :Yayasan Penerbit Fip.IKIP
Grible, James, Introduction To Philosophy Of Education, Allyn and Balon
Nizar, Samsul. 2002.Filsafat Pendidikan Islam.Jakarta : Ciputat Pers
Prasetya.1997.Filsafat Pendidikan. Bandung : CV.Pustaka Setia
Saifullah, Ali.1970.Dasar-Dasar Filosof pendidikan.Malang: Lembaga Penerbit IKIP
Zuhairini, dkk.1991.Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara




















DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................        ii
DAFTAR ISI.........................................................................................        iii

BAB. I PENDAHULUAN....................................................................        1
1.1.   Latar Belakang...........................................................................        1
1.2.   Rumusan Masalah......................................................................        1
1.3.   Tujuan Makalah .........................................................................        1

BAB. II PEMBAHASAN.....................................................................        2
2.1 Pengertian Filsafat Pendidikan ..................................................        2         
2.2 Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan...............................................        3
2.2.1 Aliran Progresivisme................................................................        3         
2.2.2 Aliran Esensialisme..................................................................        4
2.2.3 Aliran Perennialisme.................................................................        5
2.2.4 Aliran Rekontruksionalisme.....................................................        6
2.2.5 Aliran Eksistensialisme.............................................................        6

BAB. III PENUTUP
3.1 Kesimpulan..................................................................................        7
3.2 Saran............................................................................................        7

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................        8








KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. Yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya kepada kita semua. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “ Pengertian Filsafat dan Aliran-Aliran Dalam Filsafat Pendidikan “.
Allahumma sholi ‘ala saidina muhammad, mari senantiasa kita curahkan kepada habibullah Muhammad SAW. Yang telah membawa minadzulumati ila nur seperti yang kita rasakan pada saat sekarang ini.
Makalah ini kami susun dengan tujuan untuk memenuhi tugas dari Bapak Suradi selaku Dosen Filsafat Umum. Kami berharap makalah ini dapat dimanfaatkan dan dijadikan sebagai khazanah pengetahuan dan wawasan baru tentang Filsafat dan juga sebagai bahan kuliah dan bahan diskusi dan tatap muka perkuliahan.
Demikian makalah ini kami susun dengan sebaik-baiknya. Semoga makalah ini tercatat sebagai amal sholeh dan motivator untuk kita semua khususnya untuk penulis. Kami ucapkan terimakasih atas partisipasi para pembaca.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bengkulu, November 2010


Penulis

Rabu, 15 Juni 2011

Aliran-Aliran Psikologi

BAB. I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Sehubungan dengan adanya mata kuliah psikologi umum dan mendapatkan tugas dari ibu dosen. Maka kami mencoba menerangan dan memaparkan masalah psikologi. Karena dalam psikologi banyak perbedaan tentang penafsiran dan hasil penelitian tentang psikologi oleh para ahli. Sehingga, menyebabkan munculnya aliran-aliran baru dalam psikologi.  Hal inilah yang mendorong kami untuk memandang psikologi dan aliran-alirannya dalam pandangan islam.

1.2    Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan aliran Psikoanalisis ?
2.      Apa yang dimaksud dengan aliran Behaviorisme ?
3.      Apa yang dimaksud dengan aliran Kognitif ?
4.      Apa yang dimaksud dengan aliran Humanistik ?
5.      Bagaimana Pandangan Islam Terhadap Psikologi dan Aliran-Alirannya?

1.3    Tujuan
1.      Untuk memenuhi tugas dari dosen psikologi umum yaitu Ibu Fahrika Sabri
2.      Untuk  mengetahui aliran Psikoanalisis
3.      Untuk  mengetahui aliran Behaviorisme
4.      Untuk  mengetahui aliran Kognitif
5.      Untuk  mengetahui aliran Humanistik
6.      Agar mengetahui pandangan islam terhadap psikologi dan aliran-alirannya
BAB. II
PEMBAHASAN

2.1 Aliran-Aliran Psikologi
Dengan banyaknya pemikiran dan penelitian tentang kejiwaan oleh para ahli. Dan  memunculkan pandangan yang berbeda dari hasil penelitiannya. Sehingga lahirlah aliran-aliran psikologi dari para ahli . Dengan demikian ada 4 aliran-aliran psikologi yang terkenal yaitu :
1.      Aliran Psikologi Psikoanalisis
Aliran psikoanalisis adalah sebuah aliran dalam psikologi yang manusia sebagai makhluk yang digerakkan oleh-oleh keinginan-keingnan terpendam (homo valens). Aliran ini didirikan atau dikemukakan oleh Sigmund Freud pada tahun 1900. Yaitu orang yang pertama berusaha merumuskan psikologi manusia. Freud memfokuskan pada totalitas  kepribadian manusia. Aliran psikoanalisis tentang manusia ini sangat kompleks tetapi secara garis besar ada tiga ke-satuan kompleks yang memilki hubungan timbal balik.
 Yang pertama adalah Id (das es), merupakan suatu wadah yang berisi dorongan-dorongan bawaan yang bersifat primitif dan dorongan – dorongan biologis manusia (instink). Id bergerak pada bidang kesenangan dan kepuasan. Kedua adalah ego (das ich), yang menampilkan akal budi dan pikiran, selalu siap menyesuaikan diri dan mampu mengendalikan dorongan-dorongan  dan menampilkan prinsip realitis (nyata). Ketiga super ego, mempunyai fungsi untuk mengontrol id agar tidak begitu saja merealisasikan perbuatannya atau pemuasannya. Atau bisa dikatakan super ego adalah hati nurani manusia.



2.      Aliran Psikologi Behaviorisme
Aliran ini pertama kali dikemukakan oleh Ivan Petrovich Pavlov (1849-1938) dan William Mc. Dougal (1871-1938).. Aliran ini mengemukakan bahwa objek psikologi hanyalah prilaku yang kelihatan saja dan menolak pendapat sarjana psikologi yang mempelajari tingkah laku yang tidak nampak dari luar. Karena Pavlov sangat anti terhadap psikologi yang dianggap kurang ilmiah dan semua gerakan yang terjadi itu hanyalah refleks yang. Serta tokoh aliran ini yang lain mengemukakan bahwa psikologi harus menjadi ilmu yang objektif artinya harus dipelajari sebagaimana mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam.

3.      Aliran Psikologi Kognitif
Aliran psikologi kognitif menempatkan manusia sebagai makhluk yang bereaksi secara aktif terhadap lingkungannyadengan cara berfikir. Psikologi kognitif mempelajari bagaimana arus informasi ditangkap oleh alat indera yang diproses dalam jiwa seseorang sebelum diwujudkan dalam bentuk tingkah laku. Akan tetapi, dalam aplikasinya reaksi yang timbul tidak hanya yang nyata tetapi juga dalam bentuk atau berupa ingatan. Dalam konsep ini manusia orang yang secara sadar memecahkan permasalahan atau persoalan. Sehingga dalam aliran ini manusia disebut sebagai homo sapiens yaitu manusia yang berfikir.

4.      Aliran Psikologi Humanistik
Dalam aliran ini manusia pada dasarnya makhluk yang baik dan memilki potensi yang tidak terbatas. Aliran ini sangat optimistik dan bahkan terlampau optimistik terhadap pengembangan sumber daya manusia. Sehingga manusia dipandang sebagai penentu yang mempu menjalankan play God ( peran Tuhan . Hal ini, sangat memungkinkan munculnya sikap membiarkan terhadap tingkah laku manusia. Baik itu yang bersifat negatif maupun positif

2.2  Pandangan Islam Terhadap Psikologi Dan Aliran-Alirannya

a)      Pemikiran Ke Arah Psikologi Islam
Perbincangan tentang jiwa (ruh) dalam dunia islam sudah dimulai pada pertama munculnya pemikir-pemikir islam. Perbincangan tentang jiwa (nafs) dimungkinkan karena islam sudah memilki konsep tentang manusia dan unsur-unsurnya maka sangat wajar jika pemikir muslim berbicara masalah manusia dan jiwa (nafs).
<§øÿtRur $tBur $yg1§qy ÇÐÈ $ygyJolù;r'sù $yduqègéú $yg1uqø)s?ur ÇÑÈ
Artinya : “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaan-Nya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (Q.S. Asy-Syams : 7-8)

Dan juga pada surah Al-Fajr  ayat  27 yang berbunyi :
$pkçJ­ƒr'¯»tƒ ß§øÿ¨Z9$# èp¨ZÍ´yJôÜßJø9$# ÇËÐÈ
Artinya : “Hai jiwa yang tenang”. (Q.S. Al-Fajr : 27).

Menurut Malik M. Badri ada tiga fase perkembangan sikap psikolog muslim terhadap psikolog modern  yang berasal dari barat, yaitu fase infantual, fase rekonsiliasi dan fase emansipasi. Pada fase pertama ini para ahli psikolog muslim tergila-gila pada teori psikolog dan tekhniknya yang memikat. Pada fase kedua, mereka sudah mencocokkan apa yang ada dalam teori psikologi dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an. Dan pada fase terakhir, mereka semakin bersifat kritis terhadap psikologi modern dan mengalihkan perhatiaannya pada Al-Qur’an , Hadist serta Khazanah-khazanah klasik islam yang membahas tentang jiwa dan manusia. Pandangan islam terhadap psikoanalis, behaviorisme dianggap sebagai tori yang merendahkan martabat manusia sebagai hamba dan khalifah Allah, sementara humanistik dipandang mendekati pandangan islam.

M. Badri dalam bukunya yang berjudul “The Dilemma of Muslim Psychologists” mengecam psikologi Behaviorisme. Terhadap psikologi behaviorisme, kecaman diarahkan pada wawasan mengenai manusia yang dianggap sebagai makhluk yang hedonis yang memiliki motif tunggal untuk menyesuaikan diri pada lingkungan fisik dan sosial dengan mementingkan kini (here) dan disini (now). Kecaman juga ditunjukkan pada psikologi Psikoanalisis terhadap konsep-konsep dasar id, ego dan super ego yang dianggap sebagai mitos daripada penelitiaan secara ilmiah. Akan tetapi, badri tidak hanya semata-mata mengecam tetapi juga menghargai hal-hal yang positif dari aliran-aliran tersebut.

Pandangan kritis pemikir-pemikir muslim terhadap psikologi modern dan besarnya perhatian terhadap psikologo islam tidak lepas dari gerakan islamisasi ilmu pengetahuan dan gerakan kebangkitan islam. Hal ini melahirkan berbagai kajian psikologi islam muktahir juga muncul dalam literatur bahasa arab, seperti Al-Qur’an wal ‘ilman Nafs, karangan Abd. Wahab Hamudah (1962), Jamal Mahdi Abu al-Azaim (1978), dan Utsman An-Najasi (1982), Ilm an Nafis al-Islam oleh Ramadlan Muhammad al-Qazzafi (1990), Al-Tafakkurmin al-Musyahadat ila al-Syuhfid, Dirasat an Nafsiyyat oleh Malik Badri (1996).

Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang paling sempurna dalam penciptaannya. Dalam surah Al-Mu’minun ayat 12 sampai 14 dijelaskan tentang penciptaan manusia :
ôs)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ûüÏÛ ÇÊËÈ §NèO çm»oYù=yèy_ ZpxÿôÜçR Îû 9#ts% &ûüÅ3¨B ÇÊÌÈ ¢OèO $uZø)n=yz spxÿôÜZ9$# Zps)n=tæ $uZø)n=ysù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=ysù sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù't±Sr& $¸)ù=yz tyz#uä 4 x8u$t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sƒø:$# ÇÊÍÈ