Huda Motivator

Sebuah Harapan | Sebuah Impian | Untuk Tegaknya Izzah Islam

Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 April 2014

3 Keutamaan Shalat Dhuha

Shalat Dhuha memiliki keutamaan yang luar biasa. Berikut ini hadits-hadits yang menunjukkan 3 keutamaan shalat Dhuha: 

1. Shalat Dhuha 2 rakaat senilai 360 sedekah يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى “Setiap pagi, setiap ruas anggota badan kalian wajib dikeluarkan shadaqahnya. Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah, menyuruh kepada kebaikan adalah shadaqah, dan melarang berbuat munkar adalah shadaqah. Semua itu dapat diganti dengan shalat dhuha dua rakaat.” (HR. Muslim)

 فِى الإِنْسَانِ ثَلاَثُمِائَةٍ وَسِتُّونَ مَفْصِلاً فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهُ بِصَدَقَةٍ. قَالُوا وَمَنْ يُطِيقُ ذَلِكَ يَا نَبِىَّ اللَّهِ قَالَ النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا وَالشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُكَ “Di dalam tubuh manusia terdapat tiga ratus enam puluh sendi, yang seluruhnya harus dikeluarkan shadaqahnya.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?” Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah shadaqah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah shadaqah. Maka jika engkau tidak menemukannya (shadaqah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud) 

2. Shalat Dhuha 4 rakaat membawa kecukupan sepanjang hari يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تُعْجِزْنِى مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ فِى أَوَّلِ نَهَارِكَ أَكْفِكَ آخِرَهُ Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu.” (HR. Ahmad) 

 3. Menjaga shalat Dhuha dicatat sebagai awwabiin لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب وهي صلاة الأوابين “Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah; hasan) Demikian 3 keutamaan Shalat Dhuha, semoga semakin menguatkan kita dalam mengamalkan salah satu sunnah Nabi ini. 

Sumber : http://www.bersamadakwah.com

Waktu Terbaik Shalat Dhuha, Jam Berapa?

Seperti dijelaskan sebelumnya, shalat Dhuha memiliki 3 keutamaan yang luar biasa. Lalu, kapan waktu terbaik shalat dhuha? Berikut ini hadits-hadits dan penjelasan waktu terbaik shalat Dhuha. أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ Bahwasanya Zaid bin Arqam melihat orang-orang mengerjakan shalat Dhuha (di awal pagi). Dia berkata, “Tidakkah mereka mengetahui bahwa shalat di selain waktu ini lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Shalat orang-orang awwabin (taat; kembali pada Allah) adalah ketika anak unta mulai kepanasan’” (HR. Muslim)

 أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْماً يُصَلُّونَ فِى مَسْجِدِ قُبَاءٍ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِه السَّاعَةِ أَفْضَلُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ إِنَّ صَلاَةَ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ Bahwasanya Zaid bin Arqam melihat orang-orang mengerjakan shalat Dhuha di masjid Quba. Dia berkata, “Tidakkah mereka mengetahui bahwa shalat di selain waktu ini lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Shalat orang-orang awwabin (taat; kembali pada Allah) adalah ketika anak unta mulai kepanasan’” (HR. Ahmad dan Baihaqi) 

Ketika menjelaskan hadits riwayat Muslim di atas dalam Nuzhatul Muttaqin, Syaikh Musthafa Al Bugha, Syaikh Musthafa Said Al Khin, Syaikh Muhyidin Mistu, Syaikh Ali Asy Syirbaji dan Syaikh Muhammad Amin Luthfi mengatakan: “Waktu shalat dhuha dimulai sejak matahari beranjak tinggi sampai matahari mendekati posisi tengah. Tapi, yang paling utama adalah saat matahari meninggi dan sudah terasa panas.” Kalau di Indonesia, waktu terbaik Shalat Dhuha yang dimaksudkan dalam hadits dan penjelasannya di atas adalah sekitar pukul 9 WIB untuk DKI Jakarta, pukul 8.30 WIB untuk Surabaya. 

Sedangkan daerah lainnya menyesuaikan, bisa melihat jadwal shalat yang telah banyak tersedia baik cetak maupun online. Para ulama tersebut juga menjelaskan hikmah waktu terbaik shalat Dhuha ini. Mereka mengatakan: “Hikmahnya, agar menjauh dari waktu terlarang untuk shalat, yaitu saat matahari terbit.” Wallahu a’lam bish shawab. 
 
Sumber  http://www.bersamadakwah.com

Kamis, 30 Juni 2011

MOTIVASI : INDAHNYA MENITI JALAN DAKWAH

INDAHNYA MENITI JALAN DAKWAH
Saat ini keadaan kehidupan masyarakat muslim tidak begitu kondusif bagi ke-Islam-an mereka, corak kehidupan yang sekular sudah merambah hampir ke seluruh sendi kehidupan, baik sektor ekonomi, kebudayaan, pergaulan masyarakat, sehingga tataran sistem politik dan pemerintahan. Jika di ibaratkan, kaum muslim ketika ini seperti kawanan ikan yang sedang menjalani hidup di tempat yang bukan pada habitatnya.
Habitat umat Islam adalah berada ditempat yang diatur dengan wahyu Ilahi (kehidupan Islam), bukan aturan yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Allah SWT telah berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ
”Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (QS. Al-Maidah: 3).Dalam ayat yang mulia di atas, Allah SWT mengkhabarkan bahawa agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW kepada seluruh manusia adalah agama yang sempurna, mencakup seluruh perkara yang sesuai diterapkan di setiap zaman, setiap tempat dan setiap umat. Islam adalah agama yang sarat dengan ilmu, kemudahan, keadilan dan kebaikan. Islam adalah pedoman hidup yang jelas, sempurna dan lurus untuk seluruh bidang kehidupan.
Islam adalah agama dan negara (daulah), di dalamnya terdapat manhaj yang haq dalam bidang hukum, pengadilan, politik, kemasyarakatan dan perekonomian serta segala perkara yang diperlukan oleh manusia dalam kehidupan dunia mereka, dan dengan Islam nantinya mereka akan bahagia di kehidupan akhirat. (Dinul Haq, Abdurrahman bin Hammad Alu Muhammad).
Didalam kitab An-Nidhamu Al-Islam, Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani juga menjelaskan, sekurang-kurangnya ada tiga konsep yang diatur oleh Islam:
Pertama: Mengatur segenap perbuatan manusia dalam hubunganya dengan Khaliq-nya, hal ini tercermin dalam aqidah dan ibadah ritual dan spiritual. Contoh: Tauhid, sholat, zakat, puasa dan lain-lain. Kedua: Mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Yang diwujudkan berupa akhlak, pakaian, dan makanan. Ketiga: Mengatur manusia dengan lingkungan sosial. Hal ini diwujudkan dalam bentuk mu’amalah dan uqubat. (sistem ekonomi Islam, sistem pemerintahan Islam, sistem politik Islam, sistem pidana Islam, strategi pendidikan, strategi pertanian, dan sebagainya).
Namun saat ini Islam tidak diterapkan secara menyeluruh (kaffah), Islam tidak lagi menjadi ”way of life’ yang sempurna, masyarakat dipaksa untuk hidup didalam sebuah sistem sampah jahiliyyah. Dengan keadaan seperti ini, banyak diantara kaum muslim yang tergerus oleh keadaan, diantara mereka ada yang keadaan keislamannya cuma sebatas pada kad pengenalan sahaja, ada juga yang berslogan “ibadah yes maksiat yes”, alias ibadahnya jalan, maksiat juga tetap melenggang.
Ditengah hiruk pikuk kesenangan dunia yang sungguh menggoda ini, masih ada beberapa pihak yang tidak terpengaruh untuk berbuat sehingga melanggar batas, mereka masih aktif beribadah, ditambah dengan sedekah, infak, juga haji mahupun umrah, bagi mereka yang mampu. Namun disisi lain, mereka tidak mahu ambil pusing dengan keadaan yang ada, kalaupun mahu, maka hal itu cuma ala kadar, bagi mereka urusan dakwah ini tidak terlalu penting.
Padahal kalau kita telusuri sirah nabi, disana ditemukan bahawa dahulu Rasulullah Saw dan para sahabat menjadikan aktiviti dakwah yang mulia ini sebagai poros dalam kehidupan mereka. Ada banyak sekali kisah dahsyat para sahabat yang tentunya dapat kita petik sebagai pelajaran.
Salah satu adalah Ibnu Mas’ud r.a, seorang sahabat yang pertama kali membacakan Al-Qur’an secara terbuka di tempat berkumpulnya kaum Quraisy di dekat ka’bah. Apa yang terjadi?, dia dipukul oleh orang-orang Quraisy sehingga nyawa-nyawa ikan, hebatnya Ibnu Mas’ud setelah kejadian itu tidak menjadi dia kecut perut, bahkan dia mengatakan ”mulai sekarang tidak ada lagi yang kutakutkan dari orang quraisy, berikanlah lagi ayat-ayat Al-Qur’an, pasti akan kubacakan dihadapan mereka”. Luar biasa!
Kisah menajubkan lain ialah, sahabat Rasul yang bernama Sa’ad bin abi waqas, keimananya teruji dengan ancaman dari Ibundanya yang akan melakukan mogok makan jika Sa’ad tidak mahu kembali pada agama nenek moyangnya. Kepada ibunya, sa’ad berkata: ”Wahai ibu, ketahuilah, demi Allah, kalau sekiranya bonda punya seratus nyawa dan keluar satu persatu, aku tidak akan meninggalkan agamaku ini”. Subhanallah.
Sampaikan walau satu ayat
Dakwah diwajibkan oleh Allah SWT, yang dijelaskan di banyak ayat-ayat Al-Qur’an mahupun hadits Rasul-Nya.
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran:104)
Dijelaskan oleh Imam Ibnu katsir dalam kitab tafsirnya, pada kata “al-khair” diatas adalah Al-Quran dan As-Sunnah, sedangkan tafsir Jalalain menjelaskan maksud dari kata “al-khair” adalah Islam.
Perintah Allah SWT tentang dakwah ini juga dijelaskan dalam firman-Nya:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS. an-Nahl: 125).
Seruan para pengemban dakwah kepada Islam juga dipuji oleh Allah SWT. Padahal tidak ada pujian yang lebih berharga selain pujian dari-Nya. Dia SWT berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri’.?” (QS. Fushshilat: 33).
Dalam kitabnya Sayyid Quthub menfsirkan ayat ini, beliau berkata: “Kalimah-kalimah dakwah yang diucapkan sang dai'i adalah paling baiknya kalimah, ia berada pada barisan pertama di antara kalimah-kalimah yang baik yang mendaki ke langit.” (fii dzilaalil qur’an, (5/ halaman. 3121).
Menempuh jalan dakwah ini tentunya diperlukan kesabaran, keikhasan dan pengorbanan, berkorban waktu, harta, bahkan jiwa. Berusaha untuk mencari keredhaan-Nya. Sebuah pilihan hidup yang tentunya insyaAllah tiada sia-sia. Allah menjanjikan balasan yang istimewa bagi mereka.
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (Al ‘Ankabut:7).
Begitulah kenikmatan hidup yang yang sebenarnya, hanya bisa diraih ketika kita mentaati perintah dan menjauhi larangan-Nya. Ikut bekerja dalam perjuangan, untuk melanjutkan kehidupan Islam. Tidak ada kemuliaan tanpa Islam, tidak ada Islam tanpa syariah, tidak sempurna syariah tanpa daulah khilafah ala minhajin nubuwwah. Semoga kita dimudahkan oleh-Nya agar selalu ikhlas dan istiqomah di jalan ini, jalan yang kita cintai, sampai akhir hayat nanti. Amin. Wallahu a’lam bi ash-shawab.
Sumber: Halaqah-online.com

Minggu, 12 Juni 2011

Yang Berjatuhan Di Jalan Dakwah



                               
Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah

 
Bentuk-bentuk Jatuh di Jalan Dakwah
  • Menjadi lambat, kurang kontribusi, kurang produktif
  • Menjadi pasif dan tidak berbuat apa-apa
  • Menarik diri dari lingkaran dakwah
  • Menjadi benci terhadap dakwah
  • Berbalik memusuhi dan memerangi dakwah
Itulah beberapa indikasi jatuhnya seseorang di jalan dakwah, mulai dari indikasi yang ringan sampai pada yang paling berat.

Fenomena berjatuhan di jalan dakwah adalah fenomena yang hampir selalu ada. Siapakah yang dirugikan dari fenomena ini? Dakwah? Sampai batas-batas tertentu, bisa jadi. Akan tetapi, yang sebetulnya dirugikan adalah sang aktivis dakwah yang terjatuh tersebut.

Dakwah itu ibarat gerbong kereta yang mengangkut para aktivisnya sebagai penumpang. Jika ada seseorang yang tertinggal dari gerbong, akan ada saja orang lain yang menggantikan kursi tempat duduknya. Tertinggalnya orang tersebut hampir tidak berpengaruh pada dakwah. Sebaliknya, yang tertinggal itulah yang menjadi rugi. Relakah kita menjadi orang yang tertinggal itu?

Orang-orang yang jatuh di jalan dakwah bisa juga diibaratkan seperti daun-daun yang berguguran dari sebuah pohon yang rindang dan lebat daunnya. Itulah 'pohon dakwah'. Dedaunan yang jatuh berguguran itu sama sekali tidak merugikan pohon besar tersebut. Justru, dedaunan yang gugur itulah yang menjadi binasa karena ia akan menjadi kering dan hancur karena tidak lagi bisa mendapatkan suplai makanan dari pohon. Relakah kita menjadi daun yang gugur itu?
Selanjutnya, apa sajakah yang bisa menyebabkan seorang aktivis dakwah terjatuh di jalan dakwah? Secara umum, ada 2 sebab: faktor internal dan faktor eksternal.

Karena Faktor Internal
1. Karena semangat menurun
    Antisipasi :
  • Senantiasa menjaga kekuatan ruhiyah
  • Membentengi diri dengan ilmu yang kokoh
2. Karena merasa jenuh
    Antisipasi :
  • Tidak berlebihan dan ekstrim, menanggung beban yang terlalu berat
  • Melakukan refreshing dan hal-hal yang menghibur diri
3. Karena tidak puas
    Antisipasi :
  • Senantiasa ikhlas hanya karena Allah dan tidak menggantungkan harapan dan orientasi kepada selain-Nya
4. Karena tidak bisa memahami dakwah
    Antisipasi :
  • Terlibat dan terjun langsung dalam dakwah sehingga memahami realitas
  • Senantiasa mengikuti perkembangan dan dinamika terkini
  • Senantiasa meningkatkan dan mempeluas ilmu dan pemahaman
Karena Faktor Eksternal
1. Karena terbawa oleh lingkungan pergaulan
    Antisipasi :
  • Cari lingkungan pergaulan dan teman-teman dekat yang baik
  • Perkuat ketahanan diri (ruhiyah dan ilmu)
2. Karena tekanan dan pengaruh keluarga
    Antisipasi :
  • Membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan keluarga
  • Berusaha untuk berdakwah dalam keluarga dengan cara yang sebaik-baiknya
  • Memiliki ”keluarga kedua”
3. Karena terbuai oleh kenikmatan dunia
    Antisipasi :
  • Perkuat ketahanan diri (ruhiyah dan ilmu)
  • Memiliki tameng diluar diri kita (orang-orang yang bisa menjaga diri kita, bentuk-bentuk kenikmatan tandingan yang syar’i)
4. Karena tidak kuat menghadapi tekanan kehidupan
    Antisipasi :
  • Memantapkan pilar-pilar kehidupan
  • Perkuat ketahanan diri
  • Perhatian dan bantuan dari saudara-saudaranya
5. Karena tidak kuat menghadapi intimidasi
    Antisipasi :
  • Perkuat ketahanan diri
  • Mempersenjatai diri
  • Pembelaan dan dukungan dari saudara-saudaranya
6. Karena perselisihan atau konflik dengan saudaranya
    Antisipasi :
  • Senantiasa menjaga adab-adab dan akhlaq-akhlaq mu’amalah dengan saudara-saudaranya
  • Memiliki hati yang lapang
  • Adanya peredam bibit-bibit perselisihan dan konflik
sumber : http://menaraislam.com




Kamis, 07 April 2011

Dakwah Adalah Ibadah

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru (berdakwah) kepada Allah dan beramal shalih serta mengatakan;‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim’.” (QS.Fushshilat: 33). Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang lebih baik ucapannya dari pada orang yang berdakwah ilallah.
Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Katakanlah: ‘Inilah jalanku, aku bersama orang-orang yang mengikutiku mengajakmu kepada Allah di atas landasan bashirah, dan Maha suci Allah, aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik’.” (QS.Yusuf: 108)
Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Dan hendaklah ada di antara kalian sekelompok orang yang menyuruh kepada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)
Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Ajaklah kepada jalan Rabbmu dengan cara yang hikmah, nasihat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang lebih baik…” (QS.An-Nahl: 125)
Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang mengajak kepada suatu kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana pelakunya.” (HR.Muslim)
Dengan ayat dan hadits tersebut jelaslah bagi kita bahwa dakwah adalah ibadah.
SyaratSah Ibadah
Ibadah tidak akan diterima kecuali apabila memenuhi dua syarat: ikhlas dilakukan demi Allah ta’ala dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah maka hendaknya dia beramal shalih dan tidak berbuat syirik dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS.Al Kahfi: 110)
Fudhailbin ‘Iyadh menafsirkan ayat “SupayaDia menguji kalian siapakah diantara kalian orang yang paling baik amalnya.” (QS.Al Mulk: 2) dengan mengatakan: Yaitu yang paling ikhlas dan paling benar. Makna dari ikhlas adalah mengerjakan amal itu murni untuk Allah.
Sedangkan makna benar adalah mengikuti tuntunan Rasulullah. Kedua syarat ini harus terpenuhi semuanya. Apabila salah satu tidak ada maka ibadah itu tidak akan diterima.
Ibnu Qasim rahimahullah berkata: Di dalam dakwah ilallah ta’ala harus terpenuhi dua syarat: yaitu harus ikhlas untuk mengharap wajah Allah ta’ala dan harus sesuai dengan tuntunan Rasul-Nya shallallahu‘alaihi wa sallam. Kalau dia kehilangan syarat pertama maka dia adalah seorang musyrik. Dan kalau dia kehilangan syarat kedua maka dia adalah seorang pembuat bid’ah.
KesempurnaanSyariat
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Pada hari ini Aku sudah sempurnakan bagimu agamamu, dan Aku telah cukupkan atasmu nikmat-Ku dan Aku juga telah ridha Islam sebagai agama bagimu.” (QS.Al Maa’idah: 3). Oleh sebab itu tidak ada sesuatupun yang diperlukan oleh umat ini di masa kini maupun masa depan melainkan sudah dijelaskan oleh Allah dengan gamblang sehingga mereka bisa mengetahui hukumnya haram ataukah halal.
Allah ta’ala berfirmanyang artinya, “Alif Lam Raa’. Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu agar kamu mengeluarkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya dengan izin Rabb mereka menuju jalan Allah Yang Maha Perkasa lagi MahaTerpuji.” (QS.Ibrahim: 1)
Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai umat manusia, sesungguhnya tidak ada sesuatupun yang dapat mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah kuperintahkan kepada kalian. Dan tidak ada sesuatupun yang mendekatkan keneraka dan menjauhkan kalian dari surga kecuali telah kularang kalian darinya.” (HR.Al Baghawi dalam Syarhu Sunnah)
BerpegangTeguh Dengan Tuntunan Adalah Jalan Keselamatan
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak juga celaka.” (QS. Thaha: 123)
Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah secara bersama-sama dan janganlah kalian berpecah belah…” (QS. Ali Imran: 103)
Yang dimaksud dengan tali Allah adalahal-Qur’an, sebagaimana tercantum dalam hadits. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua buah pegangan : salah satunya adalah Kitabullah; dan itulah tali Allah. Barang siapa yang mengikutinya maka dia akan berada di atas hidayah. Dan barang siapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan.” (HR.Muslim)
Konsekuensi berpegang teguh dengan al-Qur’an adalah juga harus berpegang teguh dengan As Sunnah. Allah ta’alaberfirman yang artinya, “Apa saja yang dibawa rasul kepada kalian maka ambillah, dan apa saja yang dilarangnya dari kalian maka tinggalkanlah.” (QS.Al Hasyr: 7)
Imam Malik mengatakan: “As Sunnah adalah seperti perahu Nabi Nuh. Barang siapa yang menaikinya maka dia akan selamat. Dan barang siapa yang tertinggal darinya maka dia akan tenggelam.”
PeringatanKeras Akan Bahaya Bid’ah
Bid’ah adalah segala bentuk perbuatan melakukan atau meninggalkan sesuatu yang diniatkan untuk beribadah kepada Allah padahal cara itu bukanlah termasuk bagian dari ajaran agama.
Bid’ah bisa juga menyusup dalam bidang adat,bukan ibadah saja. Hal itu karena sesuatu yang pada asalnya adat itu telah dijadikan oleh orang untuk niat beribadah. Karena meyakini sesuatu yang mubah menjadi sunnah atau wajib adalah sesuatu yang bertentangan dengan syariat.
Demikianlah pendapat yang benar dan didukung oleh para ulama seperti Ibnu Taimiyah dan Imam Syathibi. Sehingga perkara-perkara adat pun bisa dimasukkan dalam kategori maksud  ibadah.
Oleh sebab itu perbuatan semacam memakai wol dalam rangka ibadah kepada Allah adalah termasuk bid’ah, demikianlah yang ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Contoh lain adalah tidak mau memakan daging adalah sesuatu yang termasuk perkara adat kebiasaan, bukan bagian dari ibadah. Akan tetapi ketika tidak memakan daging itu dijadikan sebagai salah satu cara pendekatan diri dan beribadah kepada Allah maka amalan itu termasuk dalam kategori perbuatan bid’ah.
Dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah serta ucapan para ulama salaf yang mencela bid’ah sunguuh sangat banyak jumlahnya.Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan bahwasanya yang Kami perintahkan adalah jalanku yang lurus ini, maka ikutilah ia dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan yang lain karena itu akan memecah belah kalian dari jalan Allah. itulah yang Allah pesankan kepada kalian mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS.Al An’aam: 153).
Mujahid menafsirkan kata ‘jalan-jalan yanglain’ di dalam ayat tersebut sebagai bid’ah dan syubhat. Allah ta’ala jugamemperingatkan dengan keras di dalam ayat-Nya, “Hendaknya merasa takut orang-orang yang menyimpang dari ajaranRasul kalau-kalau mereka itu nanti tertimpa fitnah atau siksa yang sangatpedih.” (QS.An Nuur: 63)
Yang dimaksud dengan fitnah di dalam ayat ini adalah syirik, kekafiran, kemunafikan atau kebid’ahan. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membenci sunnahku maka dia bukan termasukgolonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu ‘Umar mengatakan: “Ikutilah tuntunan dan jangan kalian menciptakan kebid’ahan.”
Beliau juga mengatakan: “Semua bid’ah adalah sesat meskipun orang-orang menganggapnya baik.”
Sufyan Ats Tsauri mengatakan: “Bid’ah itu lebih disukai iblis daripada maksiat. Karena maksiat masih mungkin untuk diharap taubatnya. Sedangkan bid’ah susah untuk diharap taubatnya.”
Imam Ahmad mengatakan: “Landasan As Sunnah dalam pandangan kami adalah: berpegang teguh dengan pemahaman para sahabatRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meneladani mereka, meninggalkankebid’ahan-kebid’ahan, dan setiap bid’ah adalah sesat.”


Pembahasan ini disarikan dari kitab Hujajul Qawiyyah ‘ala Anna Wasa’ila Da’wah Tauqifiyah

Sumber: www.muslim.or.id