Minggu, 10 Juli 2011

MENYIKAPI BULAN SUCI RAMADHAN

Motivasi: MENYIKAPI BULAN SUCI RAMADHAN
 Marhaban Ya Ramadhan.. Dibulan inilah umat Islam begitu amat sangat antusias menyambut datangnya bulan penuh rahmat, ampunan, dan segala keajaiban Alloh.

1. Peduli Sesama

Alloh SWT sudah menjelaskan dalam QS. An-Nisa : 36, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.” So, hablumminalloh wa hablumminannas (mencintai Alloh dan menyayangi sesama). Sebaik-baik manusia adalah yang berguna buat orang lain.
Kepedulian itu misalkan berupa memberi ta’jil pada pengemis, anak jalanan, tetangga, anak yatim, dll. Tidak perlu mahal, asalkan ikhlas… =)

2. Menyegerakan Kewajiban (terutama wanita!)

Buat kaum Hawa nih terutama, kalo masa menstruasi/haid udah selese, ya segera menyucikan diri. Kalo selesenya jam setengah 2 siang, ya langsung mandi junub/mandi besar, trus sholat. Seringnya, kalo udah selese jam segitu, mesti mandinya Ashar, bahkan Maghrib! (dulu aku juga pernah kayak gitu.. astaghfirloh). Jadi ndak usah ditunda-tunda. Kalo keluar lagi, ya keramas lagi. Gitu aja kok repot! Masa’ eman2 shampo? Kalo abis kan bisa beli lagi?!!
Bayangkan kalo kita misalkan meninggal jam 5 sore dalam keadaan belum suci, utang 2 waktu sholat fardlu, bu’! Nanti pasti Alloh akan minta pertanggungjawaban kita…
Begitu juga buat kaum Adam. Nggak menutup mata sih, kalo mereka juga pernah ndak bisa nge-rem syahwat. Urusan batal atau nggak, mungkin yang lebih paham ya kalian sendiri. hehee…

3. Menjaga Sikap

Ndak banyak yang bisa dijelasin untuk poin ini. Mungkin kita cuma bisa berlaku ramah, baik, dan santun kepada siapapun. Mungkin aku cuma menekankan bagian yang lazim, yaitu tertawa. Mungkin kalian sering denger yah, kalo tertawa itu bikin wajah awet muda dan sebagainya. Ya aku ndak memungkiri juga. Yang aku soroti lebih ke adabnya tertawa aja. Ndak pas puasaan aja, tapi mungkin bisa diawali di bulan yang suci ini gitu lhooo…
Firman Alloh SWT (QS. At-Taubah : 82), “Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.”
Coba kalian suatu ketika berpikir sebelum tertawa (ini udah pernah aku coba), pas liat acara tipi yang humor, pasti kalian tertawa kan?? Bahkan ada yang ndak sadar kalo dia tertawanya lepas banget. Weww.. bahaya tuh! Nah, secara nggak langsung, kalian sudah melupakan Alloh gara2 kenikmatan tertawa itu. Agak susah menyadari untuk hal-hal sepele kayak gitu.

4. Berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat)

Sesuai dengan firman Alloh SWT (QS. Al baqarah : 148) yang berbunyi, “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Jadi ndak usah bingung, di ayat itu udah jelas banget anjuran Alloh kepada hamba-Nya. Kebaikan datangnya dari suara hati kalian (yang merupakan Asma’ul husna), sedangkan kemungkaran bersumber dari Syaitan yang terkutuk.

5. Saling bermaaf-maafan

Oke, kita mencoba flashback apa yang udah kita perbuat selama 1 tahun ini. Ada kisah Rasulullah SAW dan para sahabatnya (petikan dari ESQ juga..hehehe). Harap disimak baik-baik ya, karena ada hikmah dibalik cerita ini.
Suatu ketika, Rasulullah SAW dan para sahabat sedang menyusuri gurun pasir. Setelah itu Rasulullah meminta tolong kepada para sahabat itu, “Wahai para sahabatku, tolong ambilkan beberapa kayu bakar di sebelah sana.” Nah, para sahabat wajar kalo bingung. Kan kita tau sendiri (maksudnya pas liat di tipi), kalo namanya aja gurun pasir, otomatis ya cuma pasir aja yang ada disana. Lalu para sahabat segera mencari kayu bakar sesuai permintaan Rasulullah. Dengan melihat-lihat yang ada di sekitar mereka, tidak ada satupun ada kayu bakar yang tampak. Kemudian salah satu sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, di sebelah mana ada kayu bakar? Sejauh kami memandang, tidak ada satupun kayu bakar di sekitar sini.” Tetapi Rasulullah tetap mengulangi permintaan tersebut hingga 3 kali. Dan para sahabat juga sebanyak 3 kali berkeliling di sekitar gurun tempat mereka beristirahat. Tidak ada satupun kayu bakar yang bisa ditemukan. “Ya Rasulullah, di sekitar kita tidak ada kayu bakar. Mungkin engkau bisa menunjukkan dimana tempatnya.” Perlahan Rasulullah mendekat dan menatap baik-baik para sahabatnya sambil tersenyum dan bersabda, “Seperti itulah dosa kita, terkadang tak tampak oleh mata, namun kita terus meraba-raba kesalahan yang sudah kita perbuat.” (kurang lebih ceritanya kayak gitu.. kalo ada yang kurang, ya mohon dimaafkan dan dibetulkan…)
Nah, dari kisah teladan diatas mungkin kalo menurut penafsiranku, kalopun ada kesalahan yang tidak kita sengaja (misal, ngrasani / ghibah), monggo langsung minta maaf dengan yang bersangkutan, bisa bapak-ibu, sodara, tetangga, atau yang lainnya. Toh minta maaf ndak mbayar, malah dapat pahala. Orang yang pemaaf itu salah satu karakteristik hamba Alloh yang bertaqwa.
Masih banyak hal-hal sederhana yang perlu kita kritisi. Misal, penulisan Allah. Mungkin bagi umat Islam udah ngerti mbacanya, tapi bagi orang lain? Belum tentu! Ada yang membacanya keliru (baca: Alah, bukan Alloh) dan sebagainya. Jadi sebaiknya menulisnya langsung pake “o” aja, Alloh SWT. Ndak nyangka banget kan?? Astaghfirlahal ‘adzim…

Sebagai penutup adalah firman Alloh SWT dalam QS. Al Baqarah : 201, “Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” Doa tersebut adalah sebaik-baiknya doa bagi seorang Muslim.
Ndak ada yang tau umur kita sampe berapa, dimana kita meninggal, dll. Jadi note ini sama sekali ndak ada niatan untuk menggurui, menyinggung, bahkan menjelekkan seseorang. Akupun juga masih belajar dari hal-hal yang aku tulis tadi. Bukankah tugas sesama muslim yaitu harus saling mengingatkan??
http://renn14.wordpress.com
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar