Kamis, 07 Juli 2011

Konspirasi Membungkam Jihad

Konspirasi Membungkam Jihad 
Stigamtisasi terhadap umat Islam sepertinya tak pernah usai. Mulai dari sebutan Kontra Revolusi di zaman Orde Lama, Subversif di era Orde Baru, dan Teroris di masa reformasi. Setelah JI, lalu NII, selanjutnya apalagi? Ketakutan pun diciptakan ketika umat Islam menyerukan kata jihad, syariat Islam, dan negara Islam. Saatnya kita membela jihad, dan melawan konspirasi atas nama jihad.

Hidup mulia atau mati syahid adalah cita-cita kaum muslimin di mana pun berada. Begitu juga, tegaknya syariah dan daulah Islamiyah, merupakan dambaan umat Islam di negeri ini. Namun, niat dan semangat saja tidak cukup. Diperlukan kecerdasan membaca situasi, agar umat Islam tidak menjadi pecundang dan tumbal politik oleh pihak yang hendak menodai dan mendompleng perjuangan ini.
Berkaca pada sejarah, dulu NII (Negara Islam Indonesia) asalnya DI (Darul Islam, diproklamasikan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, 7 Agustus 1949 di Cisayong Tasikmalaya Jawa Barat). Semula NII SM Kartosewirjo betul-betul hendak memperjuangkan Islam sebagai dasar negara. Tapi dalam perjalanannya, NII disusupi oleh intelijen untuk menghancurkan pergerakan dan politik Islam dari dalam.

Pada tahun 1980-an ketika diadakan musyawarah tiga wilayah besar (Jawa Barat, Sulawesi, dan Aceh) di Tangerang Jawa Barat, diputuskan bahwa Adah Djaelani Tirtapradja diangkat menjadi Imam NII. Lalu ada pemekaran wilayah NII yang tadinya 7 menjadi 9, penambahannya itu KW VIII (Komandemen Wilayah VIII) Priangan Barat (mencakup Bogor, Sukabumi, Cianjur), dan KW IX Jakarta Raya (Jakarta, Tangerang, Bekasi).
Penyelewengannya terjadi ketika pucuk pimpinan NII dipegang Abu Toto. Ia mengubah beberapa ketetapan-ketetapan Komandemen yang termuat dalam kitab PDB (Pedoman Dharma Bakti) seperti menggantikan makna fai’ dan ghanimah yang tadinya bermakna harta rampasan dari musuh ketika terjadi peperangan (fisik), tetapi oleh Abu Toto diartikan sama saja, baik perang fisik maupun tidak. Artinya, harta orang selain NII boleh dirampas dan dianggap halal.

Pemahaman ini tidak dicetuskan dalam bentuk ketetapan syura (musyawarah KW IX) dan juga tidak secara tertulis, namun didoktrinkan kepada jamaahnya. Sehingga jamaahnya banyak yang mencuri, merampok, dan menipu, namun menganggapnya sebagai ibadah, karena sudah diinstruksikan oleh ‘negara’.
Dalam hal shalat, dalam Kitab Undang-undang Dasar NII diwajibkan shalat fardhu 5 waktu, namun perkembangannya, dengan pemahaman teori kondisi perang, maka shalat bisa dirapel. Artinya, dari mulai shalat zuhur sampai dengan shalat subuh dilakukan dalam satu waktu, masing-masing hanya satu rakaat. Ini doktrin Abu Toto dari tahun 2000-an.

Mengenai puasa, mereka mengamalkan hadits tentang mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka dengan cara, sudah terbit matahari pun masih boleh sahur, sedang jam 5 sore sudah boleh berbuka. Alasannya dalil hadits tersebut. Gerakan ini mencari mangsa dengan jalan setiap jamaah diwajibkan mencari satu orang tiap harinya untuk dibawa tilawah. Lalu diarahkan agar hijrah dan berbaiat sebagai anggota NII. Karena dengan baiat maka seseorang terhapus dari dosa masa lalu, tersucikan diri, dan menjadi ahli surga. Untuk itu peserta ini harus mengeluarkan shadaqah hijrah yang besarnya tergantung dosa yang dilakukan. Anggota NII di Jakarta saja, saat ini diperkirakan 120.000 orang yang aktif.
Inilah bukti NII Kartosoewirjo telah dinodai oleh pengkhianat dari kalangannya sendiri, setelah tergiur oleh iming-iming harta dan kedudukan. Yang jelas, ini bukan yang pertama, perjuangan umat Islam dinodai dan dibungkam oleh mereka yang mengatasnamakan jihad dan memperjuangkan Islam.

Konspirasi Jihad

Diera Orde Baru, perjuangan umat Islam kembali dinodai dengan disusupinya oleh konspirasi intelijen untuk menghabisi mujahid yang hendak berjuang untuk Islam. Menanggapi kasus Komando Jihad (Komji), Umar Abduh mengatakan, makna kebangkitan Neo NII yang lahir berkat dibidani dan buah karya operasi intelejen OPSUS tersebut, sangat tidak layak untuk dinilai dan atau diatasnamakan sebagai wujud perjuangan politik berbasis ideologi Islam (apalagi sampai dikategorikan sebagai jihad suci fie sabilillah).
Hakekat substansi dan orientasi kiprah gerakan reorganisasi yang dilakukan para mantan tokoh sayap militer NII tersebut adalah lebih didorong oleh dan dalam rangka memperoleh serta memperturutkan syahwat duniawi (materi dan kedudukan politis) kemudian bertemu-bekerjasama (bersimbiosis mutualistis) dengan para tokoh intelejen jahiliyah yang terkenal kebusukannya dan terkenal pula kerakusannya terhadap dunia (syahwat duniawi). Dengan demikian, kasus Komando Jihad, Kebangkitan Neo NII maupun Fundamentalisme Jihad para mantan tokoh sayap militer DI tersebut merupakan wujud perjuangan atau pengorbanan yang bathil.

Motivasi para pihak atau pribadi yang dilakukan karena semangat dan ketulusan untuk memperjuangkan Islam, yang tidak didorong dalam rangka memperoleh dan memperturutkan syahwat duniawi, sebagaimana halnya sikap dan tindakan para mantan tokoh sayap sipil DI tersebut, hal itu menjadikan posisi mereka sebagai korban sekaligus menjadi bukti kebodohan mereka sendiri dalam bergama dan berpolitik akibat kebohongan, kebodohan dan kebathilan para mantan tokoh sayap militer DI sendiri dalam berpolitik dan beragama. Secara sadar atau tidak sadar, umat Islam telah dijebak dan diprovokasi oleh kebijakan intelejen OPSUS (orde baru) atas nama jihad.
Belum lagi, stigmatisasi teroris, radikalis, ekstrimis yang ditujukan kepada aktivis Islam yang mencita-citakan tegaknya syariat Islam dan daulah Islamiyah. Pejuang Islam yang betul-betul ingin berjihad, kemudian lagi-lagi disusupi intelijen untuk menghabisi keinginan untuk mewujudkan cita-citanya itu. Sehingga muncullah kelompok yang salah dalam menafsirkan makna jihad. Tanpa memahami fiqih jihad, lalu mengklaim dirinya sebagai mujahid, dengan melakukan pengeboman di sejumlah tempat, termasuk pengeboman di dalam masjid yang jamaahnya diisi oleh aparat polisi.

Menyikapi bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikra Mapolres Cirebon saat jamaah yang kebanyakan anggota polisi sedang menunaikan shalat Jum’at, (5/4/2011), sejumlah ormas Islam dalam pernyataan sikapnya, menengarai sebagai operasi intelijen untuk mengadudomba antara umat Islam dengan polisi.
Pemboman di masjid itu, menurut Forum mat Islam (FUI) adalah perbuatan biadab yang bertentangan dengan prinsip ajaran Islam. Karenanya, FUI mengecam aktor dan pelaku pemboman jamaah masjid yang sedang shalat itu sebagai tindakan yang justru menyerang simbol dan ajaran Islam.

“Pelaku dan aktor intelektual yang ada di belakangnya adalah orang yang tidak paham fiqih jihad, sebab dalam fiqhul jihad sama sekali tidak dibenarkan melakukan penyerangan terhadap rumah ibadah, apalagi masjid,” jelas Sekjen FUI Muhammad Al-Khaththath.

Bom bunuh diri yang terjadi menyusul teror bom buku beberapa waktu lalu yang hingga kini belum terungkap, disinyalir FUI sebagai teror yang tidak bisa dipisahkan dari operasi intelijen untuk membusukkan Islam. “Pemboman tersebut erat kaitannya dengan operasi intelijen untuk pembusukan Islam,” lanjut Al-Khaththath.
Untuk menjaga suasana kondusif, FUI mengimbau kepada seluruh komponen umat Islam agar merapatkan barisan dan mewaspadai makar intelijen yang berupaya mengadu domba sesama umat Islam. “Pemboman di masjid Mapolres itu merupakan upaya adu domba antara polisi dengan umat Islam,” tegas Al-Khaththath. “Rapatkan barisan dan waspadai upaya adu domba antara umat Islam,” imbaunya.

Ketika umat Islam dihadapkan pada stigmatisasi dan upaya radikalisasi oleh Badan Nasional Penanggulan Teroris (BNPT), bukan berarti umat Islam harus menanggalkan prinsip jihad yang ada di dalam ajaran Islam.
Jika umat Islam tidak memiliki semangat jihad, hal inilah yang akan disyukuri oleh Barat dan antek-anteknya. Selama jihad yang dilakukan adalah jihad yang tidak melenceng dari jalur syariat. Jika jihad tidak dipahami secara benar, maka bukan tidak mungkin, umat Islam akan menjadi korban konspirasi dari mereka yang hendak menodai hakekat jihad sesungguhnya. Sudah saatnya, umat Islam membela jihad. (Desastian)

www.voa-islam.com

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar