Selasa, 31 Mei 2011

Tingkah Laku Keagamaan Yang Menyimpang


BAB. I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Dalam kehidupan sosial dikenal bentuk tata aturan yang disebut norma. Norma dalam kehidupan sosial merupakan nilai-nilai luhur yang menjadi tolak ukur tingkah laku sosial. Jika tingkah laku yang diperlihatkan sesuai dengan norma yang berlaku, maka tingkah laku tersebut dinilai baik dan diterima. Sebaliknya jika tingkah laku tersebut tidak sesuai atau bertentangan dengan norma yang berlaku, maka tingkah laku dimaksud dinilai buruk dan ditolak.
Tingkah laku yang menyalahi norma yang berlaku disebut dengan tingkah laku yang menyimpang. Penyimpangan tingkah laku ini dalam kehidupan banyak terjadi, sehingga sering menimbulkan keresahan masyarakat. Kasus-kasus penyimpangan tingkah laku tak jarang pula berlaku pada kehidupan manusia sebagai makhluk individu maupun sebagai kehidupan kelompok masyarakat. Dan dalam kehidupan masyarakat bergama penyimpangan yang demikian itu sering terlihat dalam bentuk tingkah laku keagamaan yang menyimpang. Dengan melihat dari latar belakang diatas, maka pemakalah akan membahas tentang tingkah laklu yang menyimpang ini dan juga mengenai masalah mistisisme serta konversi agama.

1.2  Rumusan Masalah
  1. Apa yang dimaksud Tingkah Laku Keagamaan Yang Menyimpang?
  2. Apa yang dimaksud dengan mistisisme, dan apa saja yang termasuk mistisisme?
  3. Untuk mengetahui apa itu Konversi Agama.?

1.3  Tujuan Makalah
  1. Untuk mengetahui tingkah laku keagamaan yang menyimpang
  2. Untuk mengetahui tentang mistisisme dan bagian mistisisme
  3. Untuk mengetahui tentang konversi agama
BAB. II
PEMBAHASAN


A.    TINGKAH LAKU KEAGAMAAN YANG MENYIMPANG
Sikap keagamaan merupakan perwujudan dari pengalaman dan penghayatan seseorang terhadap agama, dan agama menyangkut persoalan bathin seseorang, karenanya persoalan sikap keagamaan pun tak dapat dipisahkan dari kadar ketaatan seseorang terhadap agamanya. Sikap keagamaan merupakan integrasi secara kompleks antara unsure kognisi (pengetahuan), afeksi (penghayatan) dan konasi (perilaku) terhadap agama pada diri seseorang, karenanya ia berhubungan erat dengan gejala jiwa pada seseorang. Sikap keagamaan sangat dipengaruhi oleh faktor bawaan berupa fithrah beragama; dimana manusia punya naluri untuk hidup beragama, dan faktor luar diri individu, berupa bimbingan dan pengembangan hidup beragama dari lingkungannya.
Kedua factor tersebut berefek pada lahirnya pengaruh psikologis pada manusia berupa rasa takut, rasa ketergantungan, rasa bersalah, dan sebagainya yang menyebabkan lahirnya keyakinan pada manusia. Selanjutnya dari keyakinan tersebut, lahirlah pola tingkah laku untuk taat pada norma dan pranata keagamaan dan bahkan menciptakan norma dan pranata keagamaan tertentu.Dalam kehidupan di masyarakat, sering ditemui perilaku atau sikap keagamaan yang menyimpang, maka dalam makalah ini dengan kajian psikologis, akan dibahas tentang hal tersebut, berikut dengan penyebabnya, yang diharapkan dari sini dapat digali berbagai alternatif yang dimungkinkan untuk menghindari penyimpangan tingkah laku keagamaan tersebut.
a. Pembentukan dan Penyimpangan Sikap Keagamaan
Dr. Mar’at mengemukakan ada 13 pengertian sikap, yang dirangkum menjadi 4 rumusan berikut :
Pertama sikap merupakan hasil belajar yang diperoleh melalui pengalaman dan interaksi yang terus menerus dengan lingkungan (di rumah, sekolah, dll) dan senantiasa berhubungan dengan obyek seperti manusia, wawasan, peristiwa atau pun ide, sebagai wujud dari kesiapan untuk bertindak dengan cara-cara tertentu terhadap obyek.

Kedua, Bagian yang dominan dari sikap adalah perasaan dan afektif seperti yang tampak dalam menentukan pilihan apakah positif, negatif atau ragu, dengan memiliki kadar intensitas yang tidak tentu sama terhadap obyek tertentu, tergantung pada situasi dan waktu, sehingga dalam situasi dan saat tertentu mungkin sesuai sedangkan di saat dan situasi berbeda belum tentu cocok. Ketiga, sikap dapat bersifat relatif consistent dalam sejarah hidup individu, karena ia merupakan bagian dari konteks persepsi atau pun kognisi individu. Keempat sikap merupakan penilaian terhadap sesuatu yang mungkin mempunyai konsekuensi tertentu bagi seseorang atau yang bersangkutan, karenanya sikap merupakan penafsiran dan tingkah laku yang mungkin menjadi indikator yang sempurna, atau bahkan tidak memadai.
Dari rumusan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap merupakan predisposisi untuk bertindak senang atau tidak senang terhadap obyek tertentu yang mencakup komponen kognisi, afeksi dan konasi. Dengan demikian sikap merupakan interaksi dari komponen-komponen tersebut secara komplek. Komponen kognisi akan menjawab apa yang dipikirkan atau dipersepsikan tentang obyek. Komponen afeksi dikaitkan dengan apa yang dirasakan terhadap obyek. Komponen konasi berhubungan dengan kesediaan atau kesiapan untuk bertindak terhadap obyek. Faktor penentu sikap, baik sikap positif atau pun sikap negatif, adalah motif, yang berdasarkan kajian psikologis dihasilkan oleh penilaian dan reaksi afektif yang terkandung dari sebuah sikap. Motif menentukan tingkah laku nyata (overt behavior) sedangkan reaksi afektif bersifat tertutup (covert behavior).
Dengan demikian, sikap yang ditampilkan seseorang merupakan hasil dari proses berfikir, merasa dan pemilihan motif-motif tertentu sebagai reaksi terhadap sesuatu obyek. Dengan demikian sikap terbentuk dari hasil belajar dan pengalaman seseorang dan bukan pengaruh bawaan (factor intern) seseorang, serta tergantung kepada obyek tertentu. Karena Sikap dipandang sebagai perangkat reaksi-reaksi afektif terhadap obyek tertentu berdasarkan hasil penalaran, pemahaman dan penghayatan individu
Pemberian dasar jiwa keagamaan pada anak, tidaklah dapat dilepaskan dari peran orang tua sebagai pendidik di lingkungan rumah tangga. Pengenalan agama sejak usia dini, akan sangat besar pengaruhnya dalam pembentukan kesadaran dan pengalaman beragama pada anak tersebut. Karenanya adalah sangat tepat, Rasul SAW menempatkan orang tua sebagai penentu bagi pembentukan sikap dan pola tingkah laku keagamaan seorang anak, sebagaimana sabdanya : “setiap anak dilahirkan atas fithrah, dan tanggung jawab kedua orang tuannyalah untuk menjadikan anak itu nashrani, Yahudi atau Majusi. Dimana fithrah yang dapat diartikan sebagai potensi untuk bertauhid (dapat disebut sebagai jiwa keagamaan), merupakan potensi physikis pada manusia, yang diakui adanya oleh para ahli psikologi transpersonal. Aliran psikologi ini juga mencoba melakukan kajian ilmiah terhadap demensi yang selama ini merupakan kajian dari kaum kebathinan, rohaniawan, agamawan dan mistikus. Jadi, keluarga sebagai lingkungan yang pertama ditemui anak, sangat berperan dalam pembentukan pola perilaku/ sikap anak. Adanya perbedaan individu, pada dasarnya disebabkan oleh perbedaan situasi lingkungan yang dihadapi oleh masing-masing. Karena itu, pembinaan dan pengembangan fithrah sebagai potensi psikis manusia, untuk melahirkan sikap dan pola tingkah laku keagamaan, dapat dibentuk dengan mengkondisikan lingkungan sesuai dengan ketentuan norma-norma agama. Dan norma-norma tersebut akhirnya terintegrasi dalam kepribadian individu yang bersangkutan.

Walau norma-norma agama telah menjadi bagian dari kepribadian seseorang, pada kenyataannya sering ditemukan adanya penyimpangan-penyimpangan, yang disebabkan oleh sikap yang bersangkutan (baik perseorangan atau kelompok) terhadap keyakinan agamanya mengalami perubahan. Penyimpangan sikap keagamaan dapat menimbulkan tindakan yang negatif, apalagi penyimpangan itu dalam bentuk kelompok. Memang, penyimpangan dalam bentuk kelompok ini, sering diawali oleh penyimpangan individual, tapi individual tersebut mempunyai pengaruh besar. Seseorang yang mempunyai pengaruh terhadap kepercayaan dan keyakinan orang lain, sebagai bagian dari tingkat pikir transenden. Akan sangat berpengaruh terhadap penyimpangan kelompok.
Sikap keagamaan sangat erat hubungannya dengan keyakinan/ kepercayaan. Dan keyakinan merupakan hal yang abstrak dan susah dibuktikan secara empirik, karenanya pengaruh yang ditimbulkannya pun lebih bersifat pengaruh psikologis.
Keyakinan itu sendiri merupakan suatu tingkat fikir yang dalam proses berfikir manusia telah menggunakan kepercayaan dan keyakinan ajaran agama sebagai penyempurna proses dan pencapaian kebenaran dan kenyataan yang terdapat di luar jangkauan fikir manusia.
Karenanya penyimpangan sikap keagamaan cenderung di dasarkan pada motif yang bersifat emosional yang lebih kuat dan menonjol ketimbang aspek rasional. Penyimpangan sikap keagamaan, ditentukan oleh terjadinya penyimpangan pada tingkat fikir seseorang ( tingkat fikir materialistik dan tingkat fikir transendental relegius ), sehingga akan mendatangkan kepercayaan/ keyakinan baru kepada yang bersangkutan (baik indivual maupun kelompok). Jika keyakinan itu bertentangan atau tidak sejalan dengan keyakinan ajaran agama tertentu, maka akan terjadi sikap keagamaan yang menyimpang. Penyimpangan sikap keagamaan ini, disamping menimbulkan masalah pada agama tersebut, juga sering mendatangkan gejolak dalam berbagai aspek kehidupan di masyarakat.
b.  Penyebab Terjadinya Penyimpangan sikap Keagamaan

Perubahan sikap keagamaan adalah awal proses terjadinya penyimpangan sikap keagamaan pada seseorang, kelompok atau masyarakat. Perubahan sikap diperoleh dari hasil belajar atau pengaruh lingkungan, maka sikap dapat diubah walaupun sulit.Karenanya perubahan sikap, dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :

1. Adanya kemampuan lingkungan merekayasa obyek, sehingga menarik perhatian, memberi pengertian dan akhirnya dapat diterima dan dijadikan sebagai sebuah sikap baru.
2. Terjadinya konversi agama, yakni apabila seseorang menyadari apa yang dilakukannya sebelumnya adalah keliru, maka ia tentu akan mempertimbangkan untuk tetap konsisten dengan sikapnya yang ia sadari keliru. Dan ini memungkinkan seseorang untuk bersikap yang menyimpang dari sikap keagamaan sebelumnya yang ia yakini sebagai suatu kekeliruan tadi.
3. Penyimpangan sikap keagamaan dapat juga disebabkan karena pengaruh status sosial, dimana mereka yang merubah sikap keagamaan ke arah penyimpangan dari nilai dan norma sebelumnya, karena melihat kemungkinan perbaikan pada status sosialnya.
4. Penyimpangan sikap keagamaan dari sebelumnya, yaitu jika terlihat sikap yang menyimpang dilakukan seseorang (utamanya mereka yang punya pengaruh besar), ternyata dirasakan punya pengaruh sangat positif bagi kemaslahatan kehidupan masyarakat, maka akan dimungkinkan terjadinya integritas sosial untuk menampilkan sikap yang sama, walau pun disadari itu merupakan sikap yang menyimpang dari sikap sebelumnya.
c.  Beberapa Solusi Alternatif
Sikap keagamaan akan tidak mengalami distorsi, manakala norma/nilai yang melandasi keyakinan yang melahirkan sikap itu mampu menjawab berbagai hal yang menyebabkan terjadinya perubahan/ pergeseran sikap tadi. Suatu sikap akan tidak bergeser, walau adanya lingkungan merekayasa obyek, untuk menarik perhatian, kalau norma/ nilai yang mendasari keyakinan untuk lahirnya sebuah sikap keagamaan, dapat menampilkan daya tarik lebih besar dari apa yang ditampilkan oleh lingkungan.
Kemampuan penyampai informasi dan komunikator nilai/ norma agama untuk meyakinkan kebenaran agama, dengan dapatnya teruji pada kehidupan, akan menghindarkan terjadinya proses konversi agama pada seseorang.
Pentingnya memperhatikan masalah status social dalam kehidupan beragama , adalah hal yang mutlak dilakukan, jika tidak diinginkan adanya mereka yang merubah sikap keagamaan ke arah penyimpangan dari nilai dan norma sebelumnya, karena melihat kemungkinan perbaikan pada status sosialnya. Hal ini juga telah disampaikan Rasul SAW., bahwa ‘kefakiran dekat dengan kekufuran’ (al Hadits). Dan kekufuran berarti penyimpangan dari sikap sebelumnya. Karenanyanya, juga kehidupan keagamaan juga harus mengedepankan kemaslahatan kehidupan masyarakat,
B. MISTISISME
Pengertian mistisisme merupakan terminologi dari kaum orientalis Barat  yang dapat disampakan dengan pengertian tasawuf dalam Islam.
Tujuan dari mistisme adalah memperoleh hubungan langsung secara sadar dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada, dihadirat Tuhan.
            Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, M.A, intisari dari mistisme termasuk didalamnya sufisme, ialah kesadakan akan adanya komunikasi dan dialog antara roh dan manusia dengan Tuhan sehingga mengasingkan diri dari berkontemplasi

B.  HAL-HAL YANG TERMASUK MISTISISME
      1.  Ilmu Gaib
             Yang dimaksud dengan ilmu ghaib disini adalah cara-cara dan maksud menggunakan kekuatan-kekuatan yang diduga ada di alam ghaib, yaitu yang tidak dapat diamati oleh rasio dan pengalaman phisik manusia. Kekuatan-kekuatan gaib ini dipercaya berada di tempat-tempat tertentu, pada benda-benda (Pusaka) ataupun berada dan menjelma dalam tubuh manusia.
            Sejalan dengan kepercayaan tersebut timbullah fatisen, tempat keramat dan dukun sebagai wadah dari kekuatan gaib.
   Berdasarkan fungsinya kekuatan gaib itu dapat dibagi menjadi :
  • Kekuatan gaib hitam, untuk dan mempunyai pengaruh jahat;
  • Kekuatan gaib merah, untuk melumpuhkankekuatan atau kemauan orang          lain. (hypnotisme);
  • Kekuatan gaib kuning, untuk praktek occultisme;
  • Kekuatan gaib putih, untuk kebaikan

      2.  Magis
     Magis adalah suatu tindakan dengan anggapan bahwa kekuatan gaib bisa mempengaruhi duniawai, secara nonkultus dan notekhnis berdasarkan kenangan dan pengalaman. Orang mempercayai bahwa dengan tidak memperhatikan hubungan sebab akibat secara langsung antara perbuatan dengan hasil yang diingini.
3.      Kebatinan
    Menurut Prof. Djojodiguno, SH. Berdasarkan hasil penelitiannya di Indonesia,      aliran kebatinan dapat dibedakan menjadi :
a.       Golongan yang hendak menggunakan kekuatan gaib untuk melayani berbagai keperluan manusia (ilmu gaib)
b.      Golongan yang berusaha untuk mempersatukan jiwa manusia dengan Tuhan selama manusia itu masih hidup agar manusia itu dapat merasakan dan mengetahui hidup di alam yang baka sebelum manusia itu mengalami mati
c.       Golongan yang berniat mengenal tuhan (selama manusia itu masih hidup) dan menebus dalam rahasia ketuhanan sebagai tempat asal dan kembalinya manusia
d.      Golongan yang berhasrat untuk menempuh budi luhur di dunia serta berusaha menciptakan masyarakat yang saling harga menghargai dan cinta mencintai dengan senantiasa mengindahkan perintah-perintah Tuhan.

4.      Para Psikologi
            Menurut para Psikologi, gejala jiwa itu dapat dibagi atas :
  • Gejala jiwa yang normal
  • Gejala jiwa paranormal : Gejala jiwa yang terdapat pada manusia normal dengan beberapa kelebihan yang menyebabkan beberapa kemampuan berupa gejala-gejala yang terjadi tanpa melalui sebab akibat panca indera
  • Gejala jiwa abnormal; gejala jiwa yang menyimpang dari gejala biasa karena beberapa gangguan ( sakit jiwa )

5.      Aliran Kebatinan dan Schzoprenia
            Yang menggerakkan seseorang untuk memasuki aliran kebatinan ada berbagai motif kejiwaaan, misalnya ingin tahu, rasa tidak aman, kurang percaya pada diri sendiri ataupun ingin memperdalam ajaran suatu aliran kebatinan. Bagi mereka yang mempunyai predisposisi tertentu kadang-kadang akan mengakibatkan suatu kondisi Mental breakdown. Akibat psikologis lainnya dari aliran kebatinan dapat berupa :
a.       Pemimpin terlalu terlibat secara emosional terhadap pengikutnya:
b.      Pemimpin cenderung untuk membiarkan individu tergantung pada kharismanya yang mungkin mengarah kepada kultus individu
c.       Sering terjadi unsur explotasi dari pribadi-pribadi yang mengidap paranoida yang ingin menarik simpati
d.      Memungkinkan terjadinya depresi yang menjurus kearah pengorbanan diri dan keinginan bunuh diri
e.       Memungkinkan kemungkinan penampungan bagi penderita schizoprenia dan para pemimpin biasanya tak dapat memberikan psikotherapinya.

6.      Tasawuf
Berbeda dengan fiqih, tasawuf prinsip asasinya adalah bahwa tidak ada wujud hakiki kecuali Allah. Arti tasawuf dalam agama ialah memperdalam ke arah bagian rohaniah, ubudiah, dan perhatiannya tercurah seputar permasalahan itu. Agama-agama di dunia ini banyak sekali yang menganut berbagai macam tasawuf, di antaranya ada sebagian orang India yang amat fakir. Mereka condong menyiksa diri sendiri demi membersihkan jiwa dan meningkatkan amal ibadatnya. Dalam agama Kristen terdapat aliran tasawuf khususnya bagi para pendeta. Di Yunani muncul aliran Ruwagiyin. Di Persia ada aliran yang bernama Mani'; dan di negeri-negeri lainnya banyak aliran ekstrim di bidang rohaniah. Kemudian Islam datang dengan membawa perimbangan yang paling baik di antara kehidupan rohaniah dan jasmaniah serta penggunaan akal. Maka, insan itu sebagaimana digambarkan oleh agama, yaitu terdiri dari tiga unsur: roh, akal dan jasad.
Iman dan ilmu agama menjadi falsafah dan ilmu kalam (perdebatan); dan banyak dari ulama-ulama fiqih yang tidak lagi memperhatikan hakikat dari segi ibadat rohani. Mereka hanya memperhatikan dari segi lahirnya saja. Sekarang ini, muncul golongan sufi yang dapat mengisi kekosongan pada jiwa masyarakat dengan akhlak dan sifat-sifat yang luhur serta ikhlas. Hakikat dari Islam dan iman, semuanya hampir menjadi perhatian dan kegiatan dari kaum sufi. Mereka para tokoh sufi sangat berhati-hati dalam meniti jalan di atas garis yang telah ditetapkan oleh Al-Qur,an dan As-Sunnah. Bersih dari berbagai pikiran dan praktik yang menyimpang, baik dalam ibadat atau pikirannya. Banyak orang yang masuk Islam karena pengaruh mereka, banyak orang yang durhaka dan lalim kembali bertobat karena jasa mereka. Dan tidak sedikit yang mewariskan pada dunia Islam, yang berupa kekayaan besar dari peradaban dan ilmu, terutama di bidang makrifat, akhlak dan pengalaman-pengalaman di alam rohani, semua itu tidak dapat diingkari. Tetapi, banyak pula di antara orang-orang sufi itu terlampau mendalami tasawuf hingga ada yang menyimpang dari jalan yang lurus dan mempraktikkan teori di luar Islam, ini yang dinamakan Sathahat orang-orang sufi; atau perasaan yang halus dijadikan sumber hukum mereka. Pandangan mereka dalam masalah pendidikan, di antaranya ialah seorang murid di hadapan gurunya harus tunduk patuh ibarat mayat di tengah-tengah orang yang memandikannya. Banyak dari golongan Ahlus Sunnah dan ulama salaf yang menjalankan tasawuf, sebagaimana diajarkan oleh Al-Qur'an; dan banyak pula yang berusaha meluruskan dan mempertimbangkannya dengan timbangan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Di antaranya ialah Al-Imam Ibnul Qayyim yang menulis sebuah buku yang berjudul: "Madaarijus-Saalikin ilaa Manaazilus-Saairiin," yang artinya "Tangga bagi Perjalanan Menuju ke Tempat Tujuan." Dalam buku tersebut diterangkan mengenai ilmu tasawuf, terutama di bidang akhlak, sebagaimana buku kecil karangan Syaikhul Islam Ismail Al-Harawi Al-Hanbali, yang menafsirkan dari Surat Al-Fatihah, "Iyyaaka na'budu waiyyaaka nastaiin." Kitab tersebut adalah kitab yang paling baik bagi pembaca yang ingin mengetahui masalah tasawuf secara mendalam. Sesungguhnya, tiap-tiap manusia boleh memakai pandangannya dan boleh tidak memakainya, kecuali ketetapan dan hukum-hukum dari kitab Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw. Kita dapat mengambil dari ilmu para sufi pada bagian yang murni dan jelas, misalnya ketaatan kepada Allah swt, cinta kepada sesama makhluk, makrifat akan kekurangan yang ada pada diri sendiri, mengetahui tipu muslihat dari setan dan pencegahannya, serta perhatian mereka dalam meningkatkan jiwa ke tingkat yang murni. Disamping itu, menjauhi hal-hal yang menyimpang dan terlampau berlebih-lebihan, sebagaimana diterangkan oleh tokoh sufi yang terkenal, yaitu Al-Imam Al-Ghazali. Melalui ulama ini, dapat kami ketahui tentang banyak hal, terutama ilmu akhlak, penyakit jiwa dan pengobatannya.


C.  KONVERSI AGAMA
Konversi berasal dari kata conversion yang berarti tobat, pindah, berubah. Sehingga convertion berarti berubah dari suatu keadaan atau dari suatu agama ke agama lain (change from one state, or from one religius to another).
                  Konversi agama banyak menyangkut kepada kejiwaan dan pengaruh lingkungan tempat dimana seseorang berada. Selin itu konversi agama memuat bebrapa pengertian dengan ciri-ciri :
·               Adanya perubahan dan pandang dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya.
·               Perubahan yang terjadi dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan sehingga perubahan bisa terjadi secara berproses atau mendadak.
·               Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama keagama lain akan tetapi juga termasuk perubahan pandangan terhadap agama yang dianautnya sendiri.
·               Selain itu juga faktor yang mnyebabkan perubahan adalah petunjuk dari yang maha kuasa.

Didalam Islam Konversi disebut dengan Murtad, yaitu keluar dari Agama Islam dalam bentuk niat, perkataan, perbuatan yang menyebabkan seseorang menjadi kafir atau tidak beragama sama sekali.  Kemurtadan berarti batalnya nilai religius perbuatan orang yangb bersangkutan. Kembali kepada kekafiran setelah setelah beriman berarti terputusnya hubungan dengan Allah.  Menurut fakih, orang yang telah murtad kehilangan hak perlindungannya. Jika berhasil ditangkap sebelum mengadakan perlawanan. Maka hukumnya wajib dibunuh.
Konversi telah selalu menjadi sebuah topik yang mengemuka, jika tidak membakar emosi kemanusiaan kita. Lagi pula, misionaris mencoba untuk meyakinkan seseorang untuk mengubah keyakinan agamanya yang mana menyangkut masalah- masalah paling utama tentang kehidupan dan kematian, arti penting dari keberadaan kita.
Dan misionaris biasanya merendahkan nilai dari keyakinan seseorang yang sekarang, yang mana bisa dalam bentuk komitmen pribadi yang kuat atau tradisi kebudayaan keluarga yang panjang, menyebutnya lebih rendah, salah, berdosa atau bahkan kekeliruan yang akut.
Pernyataan-pernyataan seperti itu sulit dianggap beradab atau berbudi bahasa dan sering menghina dan merendahkan. Misionaris tidaklah datang dengan sebuah pikiran terbuka untuk suatu diskusi yang tulus dan dialog yang memberi dan menerima, tetapi pikirannya telah berkesimpulan terlebih dahulu dan mencari jalan untuk memperdaya yang lain dengan pandangannya, sering bahkan sebelum ia sendiri tahu apa sebenarnya yang diyakini dan dilakukannya. Adalah sulit untuk membayangkan pertemuan antar manusia yang lebih penuh tekanan terbebas dari kekerasan fisik yang nyata.Kegiatan misionaris selalu memegang kekerasan psikologis yang terkandung didalamnya, bagaimanapun bijaksananya hal itu dilakukan. Ia diarahkan pada pengalihan pikiran dan hati dari orang-orang menjauh dari agama asli mereka kepada suatu agama yang secara umum tidak bersimpati dan bermusuhan dengannya.

·         Macam- Macam Konversi
Starbuck sebagaimana diungkap kembali oleh Bernard Splika membagi konversi menjadi dua macam, yaitu :
a.       Type volitional (perubahan secara bertahap)
Yaitu konversi yang terjadi secara berproses, sedikit demi sedikit hingga kemudian menjadi seperangkat aspek dan kebiasaan ruhaniah yang baru.
b.      Type self surrender (perubahan secara drastis)
Yaitu konversi yang terjadi secara mendadak. Seseorang tanpa mengalami proses tertentu tiba- tiba berubah pendiriannya terhadap suatu agama yang dianutnya. Perubahan tersebut dapat terjadi dari kondisi tidak taat menjadi taat, dari tidak kuat keimanannya menjadi kuat keimanannya, dari tidak percaya kepada suatu agama menjadi percaya dan sebagainya.

·         Faktor- faktor yang menyebabkan konversi
Para ahli sosiologi berpendapat bahwa terjadinya konversi agama disebabkan oleh pengaruh sosial. Dijelaskan oleh Clark, pengaruh- pengaruh tersebut antara lain:
a.       Hubungan antar pribadi, baik pergaulan yang bersifat keagamaan maupun yang bersifat non agama.
b.      Kebiasaan yang rutin.
c.       Anjuran atau propaganda dari orang- orang yang dekat , seperti keluarga, sahabat dan sebagainya.
d.      Pengaruh pemimpin agama
e.       Pengaruh perkumpulan berdasarkan hobi.
f.        Pengaruh kekuasaan pemimpin

·         Proses Konversi
Proses konversi menurut H. Carrier yaitu :
1.      Terjadi disintegrasi kognitif dan motivasi sebagai akibat krisis yang dialami.
2.      Reintegrasi kepribadian berdasarkan konsepsi yang baru. Dengan adanya reintegrasi ini maka terciptalah kepribadian baru yang berlawanan dengan struktur lama.
3.      Tumbuh sikap menerima konsep agama yang baru serta peranan yang dituntut oleh ajarannya.
4.      Timbul kesadaran bahwa keadaan yang baru itu merupakan panggilan yang suci, petunjuk Tuhan.











BAB. III
PENUTUP

            3.1 Kesimpulan
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Diantara penyebab terjadinya penyimpangan sikap keagamaan, antara lain :
·   Adanya kemampuan lingkungan menarik perhatian
·   Terjadinya konversi agama
·   Karena pengaruh status social
·   Hal-hal yang dinilai sangat positif bagi kemaslahatan kehidupan masyarakat
Dan untuk menghindari terjadinya penyimpangan sikap keagamaan, ada beberapa solusi alternatif, antara lain :
·   Menyajikan agama dengan performa yang senantiasa menarik
·   Menyajikan agama dalam bentuk sesuatu kebenaran yang tidak pernah bergeser dan senantiasa teruji dan dapat diuji.
·   Mengupayakan pengangkatan status social pengikut suatu agama.
·   Menampilkan nilai atau norma agama dengan mengedepankan apa yang dinilai sangat positif bagi kemaslahatan kehidupan masyarakat

Serta Pengertian mistisisme merupakan terminologi dari kaum orientalis Barat  yang dapat disampakan dengan pengertian tasawuf dalam Islam. Bagian dari mistisisme adalah : Ilmu Gaib, Magis, Kebathinan, tasawuf serta adanya konversi agama.

                        3.2 Saran

Adapun saran dari penulis adalah :
Makalah ini kami buat dengan sebaik-baiknya. Mudah-mudahan makalah ini dapat dijadikan sumber bacaan, referensi tambahan dan menambah pengetahuan para pembaca. Kami sadar didalam makalah ini masih banyak kesalahan dan kekeliruan. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan sarannya untuk kesempurnaan makalah ini. Atas partisipasi para pembaca kami ucapkan terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA


Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam : Menuju Psikologi Islami, Pustaka Pelajar, Jogjakarta, 1995
Jalaluddin.       .Psikologi agama.Jakarta:Rajawali Pers
Kasmiran Wuryo, Pengantar Ilmu Jiwa Sosial, Erlangga, Jakarta, 1982
Ramayulis.2004.Psikologi Agama.Jakarta:Kalam Mulya
Sururin.2002.Ilmu Jiwa Agama.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada





Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar