Selasa, 31 Mei 2011

Masa Pubertas


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sehubungan dengan adanya tugas dari dosen psikologi perkembangan yang bernama Asniti Karni, M.Pd., Kons. Tentang tahap-tahap perkembangan individu puber. Selain itu semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi mengakibatkan permasalahan psikologi remaja. Perkembangan pada masa puber (pubertas). Untuk itu kami mencoba menguraikan tahap-tahap perkembangan individu puber. Untuk lebih jelas tentang tahap-tahap pembahasan individu puber kami akan menjelaskan pada makalah ini.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud masa pubertas ?
2.      Bagaimana tahap- tahap perkembangan individu puber?
3.      Bagaimana percepatan perkembangan dan implikasi pada psikososial ?
4.      Apa yang dimaksud degan perkembangan social?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui perkembangan masa puber
2.      Untuk mengetahui tahap- tahap perkembangan individu puber
3.      Menjelaskan perkembangan fisik dan seksual
4.      Untuk mengetahui tentang percepatan perkembangan dan implikasi pada psikososial



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Masa Pubertas
Pubertas dianggap sebagai periode sensitif yang memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan individu. Periode ini menandai per­pindahan dari tahap anak-anak menjadi tahap dewasa. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis berikut ini.
"Dart' Nafi', la berkata, Aku memberitahukan hal ini kepada Umar Ibn bin Abdul Aziz, maka diapun berkata, "Inilah usia yang menjadi batas antara anak kecil dan orang dewasa." (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Thurmudhi, dan An-Nasa"i)
Pada saat itu, batas usia masa pubertas adalah 15 tahun, sebagaimana dinyatakan berikut ini:
"Dart Ibn Umar ra, dia berkata: 'Aku menghadap Rasulullah Saw. untuk ikut serta dalam pasukan perang. Ketika itu aku rnasih berusia empat belas tahun. Namun Rasulullah Saw. menolak Aku. Pada tahun berikutnya, aku kembali mengajukan dirt untuk ikut dalam pasukan perang. Ketika itu aku sudah berusia lima belas tahun, maka beliau pun menerimaku." (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Thurmudhi, dan an Nasa"i)
Namun pada saat ini, usia pubertas terlihat lebih cepat. Waktu dari perubahan fisik yang terjadi pada saat pubertas merupakan pengaruh antara faktor genetik dan lingkungan. Berbagai faktor seperti nutrisi, sikap sosial, ukuran keluarga, dan olahraga dapat memengaruhi proses pubertas.
Kata pubertas sendiri berasal dari bahasa Latin "pubescere" yang berarti menjadi berbulu. Nabi Muhammad Saw. menggunakan konsep ini untuk membedakan anak-anak dengan orang dewasa, sebagaimana terlihat ketika beliau memisahkan antara orang dewasa dan anak-anak, pada perang Bani Quraizah, dengan cara berikut.
Diriwayatkan dart Ath-Thiyah Al-Qurazhi, dia berkata "Kami telah dihadapkan kepada Nabi Saw. pada hari perang Bani Quraizhah. Barang siapa yang telah tumbuh (rambut kemaluannya), maka dia dibunuh. Dan barang siapa yang belum tumbuh (rambut kemaluannya), maka dia akan tetap hidup. Dan aku merupakan salah seorang dari mereka yang dibiarkan hidup." (at Turmudhi dan an Nasa'i)
Usia pubertas juga digambarkan dalam Alquran sebagai usia yang mencukupi untuk menikah, sebagaimana berikut ini.
Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk nikah. Jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas, maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya, dan janganlah kamu memakan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (Janganlah) kamu tergesa-gesa (membelanjakanriya) sebelum mereka dewasa... (QS Al-Nisa' [4]:6}
Dengan demikian Alquran memandang usia pubertas sebagai usia di mana individu telah memiliki kematangan pada alat reproduksi seksual yang dimilikinya. Hal ini juga menandai mulainya kematangan aspek lainnya.
Masa pubertas ditandai dengan masaknya organ-organ reproduksi sehingga secara fisik-biologis remaja sudah siap beranak-pinak. Kemasakan organ-organ seksualim juga mengubah pada sosialisasi anak. Bila dalam periode kanak-kanak akhir, individu lebih tertarik pada berjenis kelamin sama, maka pada masa pubertas daya tarik hetero-seksual mulai menjadi kuat.

B.     Tahap-Tahap Perkembangan Individu Puber
Bahwa perkembangan fisik dan seksual di sini dibicarakan ber­sama-sama menunjukkan bahwa pemasakan seksualitas genital harus dipandang dalam hubungan dengan pertumbuhan fisik seluruhnya. Pertumbuhan fisik ini berhubungan dengan aspek-aspek anatomis maupun aspek-aspek fisiologis. Dalam bagian ini akan dibicarakan fenomena-fenomena pokok seperti percepatan pertumbuhan serta pemasakan seksual.
Bila ditinjau hubungan antara perkembangan psikososial dan perkembangan fisik, dapat nampak bahwa perkembangan fisik memberikan impuls-impuls baru pada perkembangan psikososial. Jadi hubungan "kausalitas" ini berjalan dari aspek fisik ke aspek psiko­sosial (Hill/Monks, 1977). Sebaliknya reaksi individu terhadap perkembangan fisik tergantung lagi dari pengaruh lingkungannya dan dari sifat pribadinya sendiri, yaitu interpretasi yang diberikan terhadap lingkungan itu. Tetapi titik mula pubertas terletak pada fenomena pertumbuhan dan pemasakan fisik.

C.     Percepatan perkembangan dan implikasi pada psikoso­sial
Dalam masa remaja maka fisik anak tumbuh menjadi dewasa. Secara skematis pertumbuhan tadi dilukiskan sebagai berikut. Hipofisa yang menjadi masak mengeluarkan beberapa hormon, yang penting di antaranya adalah hormon tumbuh yang dikeluarkan oleh lobus frontalis, hormon gonadotrop dan hormon kortikotrop. Hormon tumbuh sebetulnya sudah mempengaruhi pertumbuhan seseorang sejak ia dilahirkan. Pada masa ini timbul percepatan pertumbuhan karena adanya koordinasi yang baik di antara kerja kelenjar-kelenjar. Hormon gonadotrop mempercepat pemasakan sel telur dan sel sperma, juga mempengaruhi produksi hormon kelenjar kelamin dan melalui hormon kortikotrop juga mempengaruhi kelenjar suprarenalis. Hormon-hormon kelamin yaitu testoteron pada anak laki-laki dan oestrogen pada anak wanita bersama-sama dengan hormon tumbuh dan hormon suprarenalis mempengaruhi pertumbuhan anak sedemiki­an rupa, sehingga terjadi percepatan pertumbuhan. Di sini perlu diperhatikan akan apa yang disebut perpindahan pertumbuhan sir­kuler, yaitu bertambahnya pertumbuhan rata-rata serta percepatan timbulnya tanda-tanda kelamin pada suatu periode tertentu bersamaan dengan meningkatnya kesejahteraan hidup. Hal ini nampak pada geja­la lebih besarnya fisik maupun lebih cepatnya menjadi seksual masak generasi muda daripada misalnya orang tua mereka (Van Wieringen, 972).
Hubungan antara pertumbuhan fisik, pengaruh hormon dan percepatan pertumbuhan dapat dikemukakan sebagai berikut. Kece­patan pertumbuhan di antara organ-organ tidaklah sama. Susunan syaraf tumbuh selama empat tahun pertama tetapi hampir tidak ber­tambah lagi sesudah tahun ketujuh. Kerangka dan susunan urat daging menunjukkan pertumbuhan yang lebih teratur dengan perce­patan pada permulaan pubertas karena pengaruh faktor-faktor tersebut di muka. Pertumbuhan organ-organ kelamin pada periode itu tidak~ banyak dan berjalan paralel dengan percepatan pertumbuhan kerangka dan susunan urat daging. Percepatan pertumbuhan badan ini yang terutama nampak sebagai pertumbuhan panjang badan berlangsung terutama dalam periode selama dua tahun. Periode ini berlangsung antara usia 11 dan 13 tahun untuk anak wanita dengan permulaan­nya selama kira-kira 1 tahun dan puncaknya pada usia 14 tahun. Di samping perbedaan-perbedaan kecil, pertambahan panjang badan ber­jalan sama pada laki-laki dan pertambahan panjang badan pada anak wanita sampai kira-kira umur 9 tahun berjalan sama. Segera sesudah itu mulailah permulaan percepatan pertumbuhan pada anak wanita, sedangkan pada anak laki-laki terjadi sedikit penurunan pertumbuhan sampai pada permulaan percepatan pertumbuhan sekitar usia 12 tahun. Bila percepatan pertumbuhan pada anak wanita berhenti, maka pada anak laki-laki hal itu baru dimulai dengan sungguh-sungguh. Percepatan pertumbuhan selesai pada usia 13 tahun (wanita) dan 15 tahun (laki-laki); pertumbuhan panjang badan pada kedua jenis seks masih berjalan terus selama kurang lebih tiga tahun sampai kira-kira usia 16 dan 18 tahun.
Di samping pertumbuhan panjang badan terjadi pertumbuhan berat badan yang kurang lebih berjalan paralel dengan tambahnya panjang badan, karena pertambahan berat badan yang terbanyak ada pada pertumbuhan bagian kerangka yang relatif merupakan bagian badan yang terberat. Di sini ada perbedaan yang jelas di antara kedua jenis seks. Pada anak laki-laki pertambahan berat badan terutama disebabkan oleh makin bertambah kuatnya susunan urat daging. Pada anak wanita lebih disebabkan oleh bertambahnya jaringan pengikat di bawah kulit (lemak) terutama pada paha, pantat, lengan atas dan dada. Pertambahan jaringan lemak pada bagian-bagian tersebut membuat bentuk badan anak wanita mendapatkan bentuk yang khas wa­nita. Anak laki-laki memperoleh bentuk badan khas laki-laki terutama karena bertambah lebarnya bagian bahu. Karena percepatan pertum­buhan pada anak wanita mulai lebih dahulu maka anak wanita pada usia 12 dan 13 tahun menjadi lebih besar daripada anak laki-laki, tetapi selanjutnya anak laki-laki segera menyusul dan melebihi besar badan anak wanita.
Pertumbuhan anggota-anggota badan lebih cepat daripada ba­dannya; hal ini membuat remaja untuk sementara waktu mempunyai proporsi tubuh yang tidak seimbang. Tangan dan kakinya lebih pan­jang dalam perbandingan dengan badannya.

D.    Perkembangan Seksualitas
Pertumbuhan organ-organ genital yang ada baik di dalam mau­pun di luar badan sangat menentukan bagi perkembangan tingkah laku seksual selanjutnya.
Tetapi di samping tanda-tanda kelamin yang primer ini maka juga tanda-tanda kelamin yang sekunder, dipandang dari sudut psiko­sosial, memegang peranan penting sebagai tanda-tanda perkembang­an seksual, baik bagi remaja sendiri maupun bagi orang-orang lain. Misalnya perubahan suara pada anak laki-laki merupakan tanda yang jelas bagi perkembangan anak laki-laki ke arah keadaan dewasa. Se­perti halnya reaksi masyarakat atau orang-orang keliling terhadap pertumbuhan badan anak, begitu pula pemasakan seksualitas mempe­ngaruhi tingkah laku remaja dan tingkah laku keliling terhadapnya. Tetapi lebih baik kiranya untuk membicarakan dulu secara khusus apa yang disebut pemasakan seksual dan apa yang dimaksudkan dengan tanda-tanda kelamin primer dan tanda-tanda kelamin sekunder.
Istilah tanda-tanda ke(amin primer menunjuk pada organ badan yang langsung berhubungan dengan persetubuhan dan proses reproduksi. Jadi pada anak wanita hal tadi adalah rahim dan saluran telur, vagina, bibir kemaluan, dan klitoris; pada anak laki-laki penis, tes­tes dan skrotum. Tanda-tanda kelamin sekunder adalah tanda-tan­da jasmaniah yang tidak langsung berhubungan dengan persetubuhan dan proses reproduksi, namun merupakan tanda-tanda yang khas wanita dan khas laki-laki.
Pada tinjauan mengenai pemasakan seksual pada anak laki-laki dan anak wanita perlulah diperhatikan mengenai unisitas individu. Meskipun pemasakan seksual berlangsung dalam batas-batas tertentu dan urutan tertentu dalam perkembangan ciri-cirinya, namun anak­ anak remaja tadi begitu berbeda secara individual, hingga hanya mungkin untuk memberikan ukuran rata-rata dan penyebarannya saja. Ada 3 kriteria yang membedakan anak laki-laki daripada anak wanita yaitu dalam hal: (1) kriteria pemasakan seksual, (2) permulaan pema­sakan seksual, dan (3) urutan gejala-gejala pemasakan.
1.      Mengenai kriterianya nampak lebih jelas pada anak wanita daripa­da anak laki-laki. Menarche atau permulaan haid dipakai sebagai tan­da permulaan pubertas. Sesudah itu masih dibutuhkan satu sampai satu setengah tahun lagi sebelum anak wanita dapat betul-betul masak untuk reproduksi. Menarche merupakan ukuran yang baik karena hal itu menentukan salah satu ciri kemasakan seksual yang, pokok, yaitu suatu disposisi untuk konsepsi (hamil) dan melahirkan. Di samping itu menarche juga merupakan manifestasi yang jelas meskipun pada permulaannya masih terjadi perdarahan sedikit (Konopka, 1976). Kriterium sejelas ini tidak terdapat pada anak laki­-laki. Berhubung ejakulasi (pelepasan air mani) pada laki-laki pada permulaannya masih sangat sedikit hingga tidak jelas, dipakai juga yang lain.
2.      Mengenai permulaan pemasakan seksual ternyata bahwa pada anak wanita kira-kira 2 tahun lebih dulu mulainya daripada pada anak laki-laki, seperti halnya juga pada percepatan pertumbuhan.
Menarche merupakan tanda permulaan pemasakan seksual dan terjadi sekitar usia 13 tahun. Pada tahun 1956: 13 tahun 7 bulan; pada tahun 1966: 13 tahun 4 bulan (perpindahan pertumbuh­an sirkuler; Van Wieringen, 1968) dengan penyebaran normal antara 10 sampai 161/2 tahun, jadi kira-kira satu tahun sesudah dilaluinya puncak percepatan pertumbuhan. Juga pada anak laki-laki baru terjadi produksi spermatozoa hidup selama kira-kira satu tahun sesudah puncak percepatan perkembangan (± 14 tahun). Namun ejakulasi pertama mendahului puncak percepatan perkembangan, tetapi dalam air mani baru terdapat sedikit sperma.
Kemungkinan produksi hormon sel-sel ovum dan sel-sel sperma pada mulanya ikut mempercepat pertumbuhan kerangka, yaitu pembagian sel pada pita epifise (pita tulang rawan) pada ujung­-ujung tulang yang mengakibatkan pengerasan bagian-bagian yang paling ujung. Dengan meningkatnya produksi hormon sel-sel ovum dan sel-sel sperma kemungkinan proses pengerasan tadi berjalan lebih cepat daripada proses pembagiannya, hingga pertumbuhan lama-lama berhenti.
Bagaimana hipotetisnya keterangan tersebut di atas, yang dapat dipastikan ialah adanya hubungan antara percepatan pertum­buhan dan mulainya pemasakan seksual (pubertas) yang dimulai lebih kemudian pada anak laki-laki daripada pada anak wanita.
3.      Perbedaan yang ketiga antara anak laki-laki dan anak wanita dalam hal pemasakan seksual adalah pada urut-urutan timbulnya berbagai gejala. Ada sementara pendapat yang mengatakan bahwa pema­sakan seksual pada anak wanita dimulai dengan tanda-tanda kela­min primer.
Pernyataan tersebut mungkin masih terlalu gegabah; yang jelas yaitu bahwa pada anak wanita pemasakan dimulai dengan suatu tanda sekunder, tumbuhnya payudara yang nampak dengan sedikit mencuatnya bagian punting susu. Hal ini terjadi pada usia antara sekitar 8 dan 13 tahun. Baru pada stadium yang kemudian, sebentar menjelang menarche maka jaringan pengikat di sekitarnya mulai tumbuh hingga payudara mulai memperoleh bentuk yang dewasa. Kelenjar payudara sendiri baru mengadakan reaksi pada masa kehamilan dengan suatu pembengkakan sedangkan produksi air susu terjadi pada akhir kehamilan. Hal ini merupakan akibat reaksi fisiologis yang menyebabkan perubahan pada organ-organ kelamin internal dalam hipofisa lobus frontalis.
Pada anak laki-laki maka pemasakan seksual dengan pertumbuhan testes yang dimulai antara 91/2 dan 131/2 tahun berakhir antara 131/2 dan 17 tahun.
Pada usia kurang lebih 15-16 tahun anak laki-laki mengalami suatu perubahan suara. Baik pada anak laki-laki maupun pada anak wanita pangkal tenggorok mulai membesar yang menyebabkan pita suara menjadi lebih panjang. Perubahan dalam pita suara tadi menyebabkan anak gadis mendapatkan suara yang lebih penuh dan lebih hangat dibanding dengan anak-anak yang mempunyai suara yang lebih melengking. Suara anak laki-laki berubah menjadi agak berat.
Seperti yang sudah dikemukakan di muka maka hanya penyim­pangan yang jelas dari batas-batas penyebaran menunjukkan hal-hal yang tidak normal dalam perkembangan. Penyimpangan juga dapat terjadi karena sebab-sebab lain. Misalnya pada anak-anak gadis yang badannya menjadi sangat kurus karena ketegangan-ketegangan psi­kis ("anorexia nervosa") dan bila ini terjadi pada masa-masa pertum­buhan dapat menyebabkan suatu hambatan yang serius bahkan dapat menyebabkan berhentinya siklus menstruasi. Selanjutnya hal ini dapat memberikan ketegangan batin lagi dan akhirnya memberikan akibat yang serius (lihat Van de Loo, 1975 dan Crisp, 1980).







BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pubertas dianggap sebagai periode sensitif yang memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan individu. Periode ini menandai per­pindahan dari tahap anak-anak menjadi tahap dewasa.
Kata pubertas sendiri berasal dari bahasa Latin "pubescere" yang berarti menjadi berbulu. Nabi Muhammad Saw. menggunakan konsep ini untuk membedakan anak-anak dengan orang dewasa.
Bila ditinjau hubungan antara perkembangan psikososial dan perkembangan fisik, dapat nampak bahwa perkembangan fisik memberikan impuls-impuls baru pada perkembangan psikososial. Jadi hubungan "kausalitas" ini berjalan dari aspek fisik ke aspek psiko­sosial.
Pertumbuhan organ-organ genital yang ada baik di dalam mau­pun di luar badan sangat menentukan bagi perkembangan tingkah laku seksual selanjutnya.
Tetapi di samping tanda-tanda kelamin yang primer ini maka juga tanda-tanda kelamin yang sekunder, dipandang dari sudut psiko­sosial, memegang peranan penting sebagai tanda-tanda perkernbang­an seksual, baik bagi remaja sendiri maupun bagi orang-orang lain

B.     Saran
Kami sebagai pemakalah menyadari bahwa makalah yang kami buat ini masih jauh dari sempurna. Maka dari itu kami sebagai pemakalah memohon kritik dan sarannya dari pembaca yang bersifat membangun agar tercipta makalah yang lebih baik lagi di kemudian hari.










DAFTAR PUSTAKA

Durio, Asus. 2006. Psikologi Perkembangan. Jakarta : PT Refila Aditama
Hasan, Purwakahia Aliah B. 2006. Psikologi Perkembangan Islami. Jakarta : PT Rajawali Pers
Irwanto. 2002. Psikologi Umum. Jakarta : PT Prenhallindo
Monkin. 2006. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta : Gajah Mada Universitas Pers
Yusuf, Syamsu. 2009. Psikologi Perkembangan Anak dan Bayi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya



MAKALAH
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
“Tahap-Tahap Perkembangan Individu Puber”


Disusun oleh :

1.      M. Nurul Huda
2.      Nigi Sistriansyah
3.      Nora Mustika


Dosen pembimbing
Asniti Karni, M.Pd., Kons



JURUSAN TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) BENGKULU
2011



KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan yang maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Tahap-Tahap Perkembangan Individu Puber” ini dengan tepat waktu.
Shalawat beriring salam tak lupa penulis sampaikan kepada junjungan Nabi besar Muhammad Saw yang telah membawa kita dari alam kebodohan menuju alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Terima kasih penulis ucapkan kepada dosen pembimbing yang telah memberikan arahan tentang isi makalah ini. Dan tak lupa pula penulis ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu penulis dalam penyelesaian makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi teman-teman untuk menambah wawasan teman-teman tentang “Tahap-Tahap Perkembangan Individu Puber” ini.



Bengkulu,       Maret 2011
Penulis



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................    i
KATA PENGANTAR.....................................................................................    ii
DAFTAR ISI....................................................................................................    iii

BAB I PENDAHULUAN
  1. Latar belakang......................................................................................    1
  2. Rumusan masalah.................................................................................    1
  3. Tujuan...................................................................................................    1

BAB II PEMBAHASAN
  1. Masa Pubertas.......................................................................................    2
  2. Tahap-Tahap Perkembangan Individu Puber........................................    3
  3. Percepatan perkembangan dan implikasi pada psikoso­sial...................    4
  4. Perkembangan Seksualitas....................................................................    6

BAB II PENUTUP
  1. Kesimpulan ..........................................................................................    10
  2. Saran.....................................................................................................    10

DAFTAR PUSTAKA



iii
 
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar